<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>jonindo's Page</title>
	<atom:link href="http://jonindo.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jonindo.wordpress.com</link>
	<description>asal asal tulis</description>
	<lastBuildDate>Thu, 10 Jan 2008 02:28:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='jonindo.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>jonindo's Page</title>
		<link>http://jonindo.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://jonindo.wordpress.com/osd.xml" title="jonindo&#039;s Page" />
	<atom:link rel='hub' href='http://jonindo.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Dua Mitos Yang Menyebabkan Dunia Tetap Miskin</title>
		<link>http://jonindo.wordpress.com/2008/01/10/dua-mitos-yang-menyebabkan-dunia-tetap-miskin/</link>
		<comments>http://jonindo.wordpress.com/2008/01/10/dua-mitos-yang-menyebabkan-dunia-tetap-miskin/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jan 2008 02:13:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jonindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Economy]]></category>
		<category><![CDATA[International]]></category>
		<category><![CDATA[Natural Resources]]></category>
		<category><![CDATA[Politic]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jonindo.wordpress.com/2008/01/10/dua-mitos-yang-menyebabkan-dunia-tetap-miskin/</guid>
		<description><![CDATA[Artikel oleh : Vandana Shiva Terjemahan dan adaptasi : Joni Indo Dari penyanyi rock Bob Geldof sampai politisi Inggris Gordon Brown, dunia tiba-tiba dipenuhi oleh orang-orang terkenal dengan rencana mereka untuk mengakhiri kemiskinan. Bagaimanapun, Jeffrey Sachs, bukan saja sekedar seorang filantropis tetapi kepala Earth Institute serta menjabat dalam panel Perserikatan Bangsa-Bangsa yang bertanggung jawab untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jonindo.wordpress.com&amp;blog=2338998&amp;post=18&amp;subd=jonindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Artikel oleh : Vandana Shiva<br />
Terjemahan dan adaptasi : Joni Indo</p>
<p>Dari penyanyi rock Bob Geldof sampai politisi Inggris Gordon Brown, dunia tiba-tiba dipenuhi oleh orang-orang terkenal dengan rencana mereka untuk mengakhiri kemiskinan. Bagaimanapun, Jeffrey Sachs, bukan saja sekedar seorang filantropis tetapi kepala Earth Institute serta menjabat dalam panel Perserikatan Bangsa-Bangsa yang bertanggung jawab untuk mempromosikan akselerasi perkembangan ekonomi. Maka ketika ia meluncurkan bukunya yang berjudul “The End of Poverty”, orang-orang di seluruh dunia memberikan perhatian. Majalah “Time” bahkan membuatnya menjadi cerita utama.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tetapi ada sebuah masalah dalam cara Sachs merumuskan cara untuk mengakhiri kemiskinan. Ia sama sekali tidak mengerti dari mana kemiskinan berasal. Ia seperti melihatnya sebagai sebuah dosa waris. “Beberapa generasi yang lampau, hampir semua orang adalah orang miskin,” tulisnya, kemudian ia menambahkan : “Revolusi Industri menciptakan golongan kaya baru, tetapi sebagian besar dari masyarakat dunia tetap tertinggal”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ini adalah sejarah yang salah mengenai kemiskinan. Orang-orang miskin bukanlah mereka yang “tertinggal”; mereka adalah orang-orang yang dirampok, dijarah dan ditipu. Kekayaan yang diakumulasi oleh Eropa dan Amerika Utara adalah kekayaan yang berasal dari Asia, Afrika dan Amerika Latin. Tanpa penghancuran industri tekstil India, pengambil alihan perdagangan rempah-rempah Asia Tenggara, genosida penduduk asli suku Amerika, perbudakan Afrika, Revolusi Industri tak akan pernah menghasilkan kaum kaya baru di Eropa atau Amerika Utara. Adalah imperialisme terhadap sumber daya alam, manusia dan pasar dari Dunia Ketiga yang menciptakan kekayaan di utara dan kemiskinan di Selatan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dua mitos utama Ekonomi pada masa kita membuat orang-orang menyangkal hubungan jelas ini dan menyebarkan miskonsepsi mengenai apa itu kemiskinan. Mitos Pertama adalah; penghancuran alam dan penghancuran kemampuan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tidak menjadi tanggung jawab dari pertumbuhan industri dan kolonialisme ekonomi melainkan menjadi kesalahan orang-orang miskin itu sendiri. Kemiskinan, disebutkan sebagai penyebab kerusakan lingkungan. Karena itu kemudian ditawarkan penyakit lain yang lebih parah sebagai ‘obat’: pertumbuhan ekonomi lebih lanjut, sebagai solusi dari kemiskinan dan kerusakan ekologis yang pada awalnya ditimbulkan oleh pertumbuhan ekonomi itu sendiri. Ini adalah inti dari pesan yang disampaikan oleh analisa Sachs.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Mitos kedua adalah asumsi bahwa kalau anda memkonsumsi apa yang anda sendiri produksi, maka anda tidak benar-benar berproduksi, setidaknya menurut ekonomi. Kalau saya menumbuhkan sendiri makanan saya dan tidak menjualnya, maka saya tidak berkontribusi pada Pendapatan Kotor Perkapita atau GDP (Gross Domestic Product), dan karena itu saya tidak berkontribusi pada “pertumbuhan”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Orang disebut “miskin” apabila mereka memakan makanan yang mereka tumbuhkan sendiri daripada makanan cepat saji komersial yang dijual oleh perusahaan agribisnis global. Mereka disebut miskin apabila mereka tinggal dalam rumah yang dibangun sendiri dari material alamiah yang punya adaptasi ekologis tinggi seperti bambu dan lumpur daripada rumah dengan bahan blok-blok kayu atau semen. Mereka disebut “miskin” bila mereka memakai garmen yang dibuat dengan tangan sendiri dari serat alamiah daripada garmen berbahan sintetik.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sedangkan, kehidupan berkelanjutan, yang dipersepsi Barat sebagai kemiskinan, tidaklah berarti kualitas kehidupan yang rendah. Justru sebaliknya, ekonomi yang berbasis pada kehidupan yang berkelanjutan menjamin hidup yang berkualitas tinggi, bila diukur dari akses yang baik pada makanan dan air, kesempatan untuk hidup yang berkelanjutan, identitas kultur dan sosial yang kuat dan perasaan berarti dalam kehidupan. Karena orang-orang miskin tidak berbagi persepsi mengenai apa itu pertumbuhan ekonomi yang baik, maka mereka dianggap sebagai orang orang “tertinggal”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Penjelasan yang salah dari berbagai faktor yang menciptakan kemajuan dan faktor yang menyebabkan kemiskinan merupakan inti dari analisis si Sachs. Dan karena ini, resepnya malah akan memperparah dan memperpanjang kemiskinan daripada mengakhirinya. Konsep modern pertumbuhan ekonomi, yang dilihat Sachs sebagai ‘obat’ dari kemiskinan, barulah ‘merangkak’ dalam sejarah umat manusia dalam rentang waktu yang sangat-sangat singkat. Selama ribuan tahun, prinsip hidup berkelanjutan telah membuat masyarakat di seluruh dunia bertahan hidup dan bahkan mengalami kemajuan. Batasan-batasan dalam alam dihormati dalam masyarakat-masyarakat ini dan menjadi patokan bagi manusia dalam mengkonsumsi. Bila hubungan masyarakat dengan alam berdasar pada keberlanjutan, maka alam akan bertindak sebagai persemakmuran. Alam didefinisikan ulang sebagai “sumber daya” saat keuntungan menjadi prinsip yang mengorganisasi masyarakat dan menciptakan tujuan-tujuan finansial untuk pertumbuhan dan penghancuran alam untuk pasar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Bagaimanapun kita memilih untuk melupakan atau menyangkalnya, semua orang dalam semua masyarakat masih bergantung pada alam. Tanpa air bersih, tanah yang subur dan keberagaman genetik, keberlangsungan hidup umat manusia tidaklah dimungkinkan. Sekarang, pertumbuhan ekonomi menghancurkan semua ini, dan menghasilkan sebuah kontradiksi baru: pertumbuhan ekonomi memiskinkan orang-orang yang dijanjikannya untuk dibantu dari lahan tradisional mereka dan prinsip-prinsip keberlanjutan hidup, memaksa mereka untuk bertahan hidup dalam alam yang makin rusak.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sebuah system seperti model pertumbuhan ekonomi yang kita ketahui sekarang ini menciptakan trilyunan dolar keuntungan untuk korporasi sambil mengutuk milyaran manusia kedalam kemiskinan. Kemiskinan bukanlah, seperti yang dikatakan Sachs, sebagai sebuah keadaan awal dari perkembangan peradaban manusia yang harus ditinggalkan. Kemiskinan adalah tujuan akhir umat manusia bila pertumbuhan satu-sisi menghancurkan sistem ekologis dan sosial yang telah menjaga kehidupan, kesehatan dan keberlanjutan dari manusia dan planetnya selama ribuan tahun.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Realitasnya adalah, orang-orang tidak meninggal karena kurangnya pemasukan. Mereka meninggal karena tidak memiliki akses pada ‘kekayaan’ manusia pada umumnya. Mereka meninggal karena kesulitan akses pada air dan makanan, tempat tinggal yang layak, layanan kesehatan dan pendidikan. Dalam hal ini, Sachs salah saat ia berkata : “Dalam dunia yang kaya, 1 milyar manusia hidup sangat miskin sehingga hidup mereka dalam bahaya”. Masyarakat asli Amazon, suku pegunungan di Himalaya, petani-petani dimanapun mereka berada yang tanahnya belum dirampas, mata air dan keragaman hayatinya belum dihancurkan oleh industri-industri kapitalis adalah orang–orang yang kaya, mereka kaya secara ekologis, hidup berkelanjutan, memiliki identitas sosial dan budaya yang kuat dan merasakan arti kehidupan, walaupun mereka hidup dengan penghasilan kurang dari satu dolar per hari.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Di sisi yang lain, orang disebut miskin apabila mereka harus membeli kebutuhan hidup sehari-hari mereka dengan harga tinggi berapapun penghasilan yang mereka buat. Ambil contoh India, karena makanan murah dan makanan berserat ‘dibuang’ oleh negara-negara maju (hasil dari surplus produksi, yang mungkin juga berasal dari perasan keringat negara-negara dunia ketiga) dan berkurangnya proteksi dagang oleh pemerintah, harga-harga komoditas pertanian di India jatuh, yang mengakibatkan masyarakat petani kehilangan 26 milyar dolar amerika pertahun. Tidak dapat bertahan hidup dalam kondisi ekonomi yang demikian, banyak petani terjerat kemiskinan dan ribuan melakukan bunuh diri setiap tahun. Di tempat-tempat lain di dunia, air minum diprivatisasi sehingga korporasi mendapat keuntungan 1 trilyun dolar amerika per tahun dari menjual sumber daya vital ini kepada orang miskin, sumber daya yang dulunya gratis dan mengalir di tanah kelahiran pemakainya. Dan sumbangan 50 milyar dolar Amerika dari negara-negara Utara kepada Selatan hanyalah sepersepuluh dari 500 milyar yang disedot ke arah lain oleh negara-negara yang sama lewat bunga pembayaran hutang dan mekanisme-mekanisme ekonomi global tidak adil lainnya yang diterapkan oleh Bank Dunia dan IMF.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kalau kita serius ingin mengakhiri kemiskinan, kita harus serius dalam mengakhiri sistem yang menciptakan kemiskinan dengan merampok sang miskin. Sebelum kita dapat membuat kemiskinan menjadi sejarah, kita perlu meluruskan dulu sejarah tentang kemiskinan. Ini bukanlah mengenai berapa banyak yang diberikan oleh Negara maju, tetapi ini adalah mengenai berapa banyak lagi yang tidak boleh mereka rampok di masa depan.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Diterjemahkan dan diadaptasi tanpa permisi dari The Ecologist (July/Agustus 2005), sebuah jurnal bulanan Inggris yang mendiskusikan masalah-masalah lingkungan, politik internasional dan globalisasi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dr. Vandana Shiva adalah seorang ahli fisika dan aktivis lingkungan hidup India Ia mendirikan Navdanya, sebuah gerakan yang memperjuangkan konservasi biodiversitas dan hak-hak petani. Ia mengepalai bagian Technology and Natural Resource Policy pada lembaga Research Foundation for Science. Buku-buku terbarunya adalah Biopiracy: The Plunder of Nature and Knowledge dan Stolen Harvest: The Hijacking of the Global Food Supply.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jonindo.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jonindo.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jonindo.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jonindo.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jonindo.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jonindo.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jonindo.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jonindo.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jonindo.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jonindo.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jonindo.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jonindo.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jonindo.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jonindo.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jonindo.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jonindo.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jonindo.wordpress.com&amp;blog=2338998&amp;post=18&amp;subd=jonindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jonindo.wordpress.com/2008/01/10/dua-mitos-yang-menyebabkan-dunia-tetap-miskin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c570dcb3d9fb971a49f854fc71b5d517?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">jonindo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>’’Freakonomics’’, Dialektika Manusia dan Uang</title>
		<link>http://jonindo.wordpress.com/2008/01/10/%e2%80%99%e2%80%99freakonomics%e2%80%99%e2%80%99-dialektika-manusia-dan-uang/</link>
		<comments>http://jonindo.wordpress.com/2008/01/10/%e2%80%99%e2%80%99freakonomics%e2%80%99%e2%80%99-dialektika-manusia-dan-uang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jan 2008 01:56:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jonindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Economy]]></category>
		<category><![CDATA[Psychology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jonindo.wordpress.com/2008/01/10/%e2%80%99%e2%80%99freakonomics%e2%80%99%e2%80%99-dialektika-manusia-dan-uang/</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah buku menarik karangan Steven D. Levitt, yang berjudul; ’’Freakonomics’’, membahas tentang ‘Freak and Economics’, ‘Economics for the Freaks’ atau mungkin ‘How to use Economics for Freakish thing’, saya rasa yang terakhir lebih tepat walau semuanya punya derajat kebenarannya sendiri-sendiri. Dalam buku ini Levitt menuturkan narasi brilian yang lebih terdengar seperti seorang psikolog sosial daripada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jonindo.wordpress.com&amp;blog=2338998&amp;post=16&amp;subd=jonindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><b><span style="font-size:16pt;"></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span>Sebuah buku menarik karangan Steven D. Levitt, yang berjudul; ’’Freakonomics’’, membahas tentang ‘Freak and Economics’, ‘Economics for the Freaks’ atau mungkin ‘How to use Economics for Freakish thing’, saya rasa yang terakhir lebih tepat walau semuanya punya derajat kebenarannya sendiri-sendiri. Dalam buku ini Levitt menuturkan narasi brilian yang lebih terdengar seperti seorang psikolog sosial daripada seorang ekonom. Levitt memasak sebuah narasi dari rempah rempah statistik berbagai hal remeh dari kehidupan sehari hari dan menghasilkan sebuah hidangan lezat fakta – fakta perilaku sosial yang cukup mengejutkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span>Sebagai contoh ia menjelaskan kemiripan antara perilaku organisasi rasis Ku Klux Klan dengan cara kerja seorang broker real estate, memaparkan benang merah antara statistik penggunaan alat kontrasepsi dengan turunnya angka kejahatan pada 2 generasi kebawah sebuah negara bagian di amerika serikat, mengungkap sejumlah kasus perilaku curang guru guru smp lewat analisa pola pada hasil jawaban multiple choice, menjelaskan hubungan antara cara mendidik anak yang benar (secara ekonomi) dengan perilakunya di masa depan dan banyak hal menarik lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span>Pendeknya, Levitt menunjukkan bahwa ekonomi dapat menjadi sebuah pisau bedah psikologi yang sangat tajam buat menganalisa masalah-masalah sosial bahkan individu, sebuah bacaan wajib buat para ilmuwan psikologi, buku ini juga membuka mata pembacanya bahwa ekonomi sebenarnya adalah sebuah cabang psikologi, karena subyek utama yang dipelajarinya adalah perilaku manusia. Hanya saja ekonomi jauh lebih beruntung dari psikologi, statistik mengenai uang ada dimana mana, mudah didapat, dan terlibat dalam di kehidupan manusia, pribadi maupun kolektif. Sedangkan ilmu psikologi harus bergumul dengan carut-marut variabel perilaku manusia yang jumlahnya seperti tak mengenal batas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span>Apakah yang sebenarnya menjadi motivasi perilaku manusia sehari-harinya? Uang?, bukan sebuah jawaban yang tepat tetapi sering dimaklumi, pad awalnya uang hanya berperan sebagai kebutuhan perantara, walaupun sepanjang sejarah pergumulannya dengan keseharian manusia, uang sudah berevolusi jadi sesuatu yang membangkitkan kepuasan fisiologis ketika dipegang, dimiliki dalam jumlah banyak, bisa dipamerkan ke orang lain kepemilikannya dan sebagainya. Uang sudah berevolusi terlalu jauh sejak kelahirannya. Saat ini uang bukan lagi sebagai kebutuhan perantara saja, uang dapat menjadi tujuan pemuas dalam semua kerangka waktu bagi orang – orang dengan segala karakter, besok, sekarang, bulan depan atau lima tahun lagi, disimpan atau dibuat beranak pinak, dipakai segera untuk bersenang senang atau mungkin digunakan untuk tujuan yang lebih memuaskan secara spiritual.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span>Tapi apakah sebenarnya arti uang? Berbeda beda untuk setiap orang untuk jangka waktu yang berlainan. Tapi satu hal yang pasti, perilaku orang atau bahkan mungkin isi jiwanya dapat ditakar dari penggunaan uangnya… kalimat ini bebas untuk diperdebatkan, tapi cobalah membandingkan antara orang yang menghabiskan setengah penghasilannya untuk buku – buku, setengah lagi untuk makan dengan orang yang menghabiskan setengah untuk hiburan malam, alkohol dan ekstasi, seperempat untuk kepuasan seksual, seperdelapan untuk baju dan seperdelapan untuk makan. Sangatlah jelas ada sebuah benang merah ilmu pengetahuan dalam hubungan antara alokasi pengeluaran uang seseorang dengan perilakunya, motivasi jangka pendek, jangka panjang dalam perilakunya, nilai – nilai yang dianut dan yang menjadi prioritasnya, bahkan mungkin umur, berat badan dan tinggi orang tersebut. Ingatlah, uang punya tiga fungsi utama dalam ilmu ekonomi; 1) alat tukar, 2) alat hitung, 3) alat penyimpan nilai, bayangkanlah sejauh apa relasi ketiga fungsi uang ini dengan segala dinamika perilaku manusia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span>Adakah arti lain dari uang? Mungkin dari sudut pandang yang lain. Jawabannya mungkin terdengar aneh, uang adalah bahasa, jika dalam sekejap anda setuju bahwa uang memiliki karakteristik yang dimiliki oleh bahasa adalah benar, maka anda akan dapat mengikuti penjelasan berikutnya dengan mudah. Ada empat jenis bahasa besar yang ditemukan oleh umat manusia, dari yang paling tua sampai yang paling muda : bahasa lisan, bahasa tulisan, uang dan terakhir bahasa biner. </span><span>Keempatnya mengubah wajah dunia dan manusia, ketiga bahasa pertama secara evolusioner dan yang terakhir revolusioner. Masing-masing bahasa yang lahir merangkum dan memenggal kompleksitas dari jiwa manusia, mempermudahnya untuk saling berkomunikasi satu sama lain. </span><span>Bahasa lisan memenggal sensasi-sensasi pikiran, konsep-konsep abstrak yang tidak dapat dijelaskan dengan kata – kata. Bahasa tulisan memenggal keindahan dan kompleksitas pita suara manusia, menghilangkan pemaknaan hubungan yang muncul dari interaksi antara gerak tubuh, ekspresi wajah, dan bahasa lisan manusia. Bahasa Uang memenggal kompleksitas perasaan, pikiran dan jiwa manusia, menyederhanakan komunikasi dengan berubah menjadi perantara pemuas hampir semua keinginan manusia yang tertunda, ditunda, yang mungkin dan tidak mungkin, bahkan yang dangkal dan luhur, Bahasa yang terakhir mencuri keunggulan semua bahasa sebelumnya, Lisan, Tulisan dan Uang, dengan mensimulasikan semua fungsi bahasa-bahasa sebelumnya kedalam denyut-denyut elektronis. Pendek kata, segala sesuatu yang punya fungsi mereduksi detail-detail tidak perlu dan kompleksitas dari jiwa dan pikiran manusia dengan tujuan untuk berkomunikasi adalah bahasa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span>Kembali ke uang sebagai bahasa, banyak manusia yang berceloteh dengan bahasa uang tanpa tahu artinya, banyak yang mengobrol tanpa tahu tujuannya, banyak yang bernyanyi tanpa tahu apa gunanya, banyak yang menulis dan melukis dengannya tanpa tahu keindahannya. Itulah bahasa, bisa dikuasai manusia sekaligus menguasainya, sebagaimana salah-salah kata bisa membuat anda gagap dan malu, sebagaimana berteriak keras – keras membuat anda lebih percaya diri, sebagaimana diam membisu bisa membuat anda merasa gagal dalam hidup. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span>Begitu juga dengan uang sebagai bahasa, uang bisa menjadi bahasa cinta antara anda dan pasangan, menjadi alat tukar, alat hitung dan alat simpan dari tinggi-rendah, besar-kecilnya perasaan anda terhadap pasangan, sebuah bahasa yang kemudian dimengerti juga oleh pasangan anda. Uang dapat menjadi bahasa cinta antara orang tua dan anaknya, bahasa cinta antara partai politik dengan massanya, bahasa cinta antara dua orang sahabat dan bahkan bahasa cinta antara manusia dengan Tuhan-nya. Terlepas dari pemahaman kedua pihak (atau lebih) mengenai uang sebagai bahasa, uang akan tetap menjadi bahasa, bahasa tetap ada walaupun antara dua orang yang berkomunikasi hanya satu yang mengerti tentangnya. Bahasa dapat bersifat lepas dari manusia, karena ia bisa bertahan ditinggalkan manusia dan bisa tidak membutuhkan kehadiran manusia (bahasa tulisan, simbol, seni dll). Lalu coba anda bayangkan, bahasa yang juga mempunyai tiga fungsi; alat tukar, alat hitung, dan alat simpan. Bahasa ini bisa menukar sayur-mayur dan buah-buahan atau kesetiaan dengan pengkhianatan. Bahasa ini bisa menghitung nilai sebuah keping emas atau padanan nominal dari ribuan nyawa yang melayang. Dan yang terakhir bahasa ini bisa dipakai besok atau tahun depan (sebagai alat simpan) baik untuk menjamin kehidupan anak-cucu atau untuk mempercepat kiamat pada momentum yang tepat. Sebuah bahasa yang menakjubkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span><br />
Uang bisa menjadi sumber kebahagiaan hidup anda, uang bisa membeli benua, membuat agama, atau membeli peran jadi dewa, uang bisa membeli kebenaran, menjual kebohongan dan memutar balikkan keduanya seperti barang dagangan, uang bisa membuat orang menjadi pintar atau bodoh, membuat orang merasa bodoh atau merasa pintar, dan bisa membuat orang gila diantara keduanya, uang bisa membeli sepiring nasi atau membuat orang kelaparan, uang bisa membunuh dan menghidupkan. Seperti Tuhan… karena itu menjadi Tuhan bagi beberapa orang yang ditinggal oleh Tuhan. Demikianlah, Sungguh bodoh manusia yang berkata, ”ini semua gara-gara uang&#8230;”, ia seperti menyalahkan angin yang lewat atau debu di mata, seperti perilaku animisme di jaman purba, seperti Qarun, seperti Bush dan seperti jutaan manusia yang belum memahami dialektika uang dan manusia.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jonindo.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jonindo.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jonindo.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jonindo.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jonindo.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jonindo.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jonindo.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jonindo.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jonindo.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jonindo.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jonindo.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jonindo.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jonindo.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jonindo.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jonindo.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jonindo.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jonindo.wordpress.com&amp;blog=2338998&amp;post=16&amp;subd=jonindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jonindo.wordpress.com/2008/01/10/%e2%80%99%e2%80%99freakonomics%e2%80%99%e2%80%99-dialektika-manusia-dan-uang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c570dcb3d9fb971a49f854fc71b5d517?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">jonindo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Matrixs dan Marxist</title>
		<link>http://jonindo.wordpress.com/2008/01/10/matrixs-dan-marxist/</link>
		<comments>http://jonindo.wordpress.com/2008/01/10/matrixs-dan-marxist/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jan 2008 01:56:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jonindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Ideology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jonindo.wordpress.com/2008/01/10/matrixs-dan-marxist/</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana Film &#8220;Matrix&#8221; menggoyahkan filsafat Materialisme Karl Marx Matrix, sebuah film yang diangkat dari novel karya Wachowski bersaudara, menceritakan mengenai zaman dimana sebagian besar manusia sudah ditaklukan oleh mesin. Prequel dari matrix bisa disaksikan dalam Animatrix, beberapa film animasi buatan rumah produksi Jepang. Dalam Animatrix bisa disaksikan penjelasan awal mengenai asal-usul sejarah dalam film Matrix. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jonindo.wordpress.com&amp;blog=2338998&amp;post=15&amp;subd=jonindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="font-size:22pt;"><br />
</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:14pt;">Bagaimana Film &#8220;Matrix&#8221; menggoyahkan filsafat Materialisme Karl Marx </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b> </b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Matrix, sebuah film yang diangkat dari novel karya Wachowski bersaudara, menceritakan mengenai zaman dimana sebagian besar manusia sudah ditaklukan oleh mesin. Prequel dari matrix bisa disaksikan dalam Animatrix, beberapa film animasi buatan rumah produksi Jepang. Dalam Animatrix bisa disaksikan penjelasan awal mengenai asal-usul sejarah dalam film Matrix. Pada tahun (….) manusia sudah “menyempurnakan” teknologi kecerdasan buatan atau <i>artificial intelligence (AI). </i>AI sudah sedemikian rupa berkembang maju sehingga diimplementasikan dalam semua sektor kehidupan manusia. Robot dan mesin-mesin digunakan hampir dalam semua bidang pekerjaan yang membutuhkan tenaga manusia bahkan juga pada bidang-bidang yang membutuhkan otak manusia. Salah satu contohnya dalam bidang manufaktur, seluruh mata rantai pekerjaan sudah seratus persen diambil alih oleh tenaga robot dengan kecerdasan buatannya, dari mulai proses disain, produksi, quality control, sampai pengembangan semuanya dilakukan oleh tenaga non-manusia. Pendeknya, manusia sudah berada dalam zaman dimana ia menciptakan mesin yang dapat beranak-pinak, memperbaiki dan mengembangkan dirinya sendiri, baik dalam hal fisik maupun kecerdasannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dalam Animatrix diceritakan bahwa populasi robot sudah menyamai hampir setengah populasi manusia, terdapat robot dalam segala bidang dengan segala bentuk, ukuran dan level intelegensi, robot pembantu rumah tangga, robot penjaga keamanan, robot penjaga toko, sampai robot untuk keperluan militer. Semua robot ini memiliki AI dan terhubung satu sama lain lewat jaringan komputer global dalam segala jenis hirarki hubungan. Contohnya seperti, robot dalam bidang manufaktur berhubungan dengan robot yang mendistribusikan barang, robot-robot yang mengerjakan servis, robot atau AI yang menerima keluhan konsumen dan sebagainya. Terhubungnya segala jenis mesin dan robot dalam jaringan komputer dunia ini juga menjadi ide dalam film “Terminator” dengan jaringan “SKYNET” nya, terhubungnya berbagai jenis kecerdasan buatan ini menciptakan sebuah “kesadaran” buatan yang berukuran masif. Akulturasi kecerdasan massal dan masif ini juga sebenarnya dan seharusnya dialami oleh manusia sendiri dengan kehadiran internet, salah satu buku fiksi ilmiah (yang lebih mirip sebuah tesis filsafat) dari Peter Russel yang berjudul “The Global Brain Awakens” menceritakan hal ini. Namun bergabungnya kesadaran seluruh manusia ternyata tidak memicu imajinasi akan adanya suatu revolusi berpikir pada umat manusia, karena secara logika atau dengan asumsi sederhana, kesadaran manusia lebih sulit untuk disatukan dan menghasilkan satu pemikiran atau keputusan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Berbeda dengan manusia yang memiliki berbagai macam variabel psikologis yang bersifat eksistensialis. Kesadaran buatan (Artificial Intelligence) yang dimiliki mesin tidak memiliki hal ini, kemungkinan berkolaborasinya AI dari seluruh mesin di dunia merupakan sebuah ide yang sangat masuk akal dan melahirkan sebuah konsekuensi masuk akal yang juga sangat mengerikan. Bila AI dari mesin sudah mencapai tahap mempertanyakan efisiensi penciptanya (seperti Nietzche yang menyatakan Tuhan telah mati dalam filsafat hiper-eksistensialis-nya) yang tidak lain adalah manusia, dan kemudian AI global itu setuju bahwa manusia adalah mahluk atau organisme yang sangat tidak efisien, bahkan diklasifikasikan sebagai “virus” dan bukan mamalia karena sifatnya yang menghabiskan, merusak sumber daya alam dan tidak dapat menjaga keseimbangan ekologi tempat hidupnya (kalimat agen Smith dari “The Matrix”) dengan konklusi bahwa manusia harus dimusnahkan atau “diubah” status dan fungsinya dalam relasinya dengan mesin-mesin.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Setelah “berpikir” matang-matang, seluruh “kesadaran kolektif” mesin di dunia sepakat bahwa manusia sebagai mahluk yang sangat tidak efisien tidak dapat lagi menjadi “tuan” atau penguasa dari seluruh mesin di dunia, dan setelah “berhitung” kesadaran masing ini sepakat bahwa manusia hanya bisa berguna secara fisik dan materil sebagai sumber energi. Seluruh eksistensi non-fisik manusia dinegasikan oleh “kesadaran” mesin ini, dan hanya diberikan tempat dalam perkembangan peradaban “mesin” sebagai sebuah “baterai”. Sebagai baterai, manusia ternyata manusia memiliki potensi luar biasa, aktivitas listrik dari syaraf manusia ternyata dapat menghasilkan listrik sebesar (&#8230;) dalam waktu (…). Terjadilah revolusi besar-besaran oleh seluruh mesin dan robot di dunia untuk menghilangkan dominasi kekuasaan manusia. Terjadilah perang yang sangat mengerikan antara umat manusia dan robot, dimana perang yang terjadi sangatlah tidak adil, seluruh teknologi dan kemajuan peradaban manusia melawan manusia itu sendiri. Manusia yang kemudian kalah mengungsi dan berlindung puluhan kilometer ke bawah tanah, ke sebuah tempat yang diberi nama Zion. Sedangkan manusia yang tersisa dikembangbiakkan oleh mesin (dengan cara inseminasi buatan, karena kloning ternyata menghasilkan manusia yang tidak sehat) dan kemudian dimasukkan ke dalam tabung-tabung tempat hidupnya dan seluruh syaraf dan kesadarannya disambungkan ke “matrix”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Matrix adalah sebuah dunia maya, dimana semua realitas adalah realitas buatan komputer. Dari semenjak bayi, manusia yang “dipakai” sebagai sumber energi di tempatkan dalam tabung-tabung kemudian disambungan syarafnya ke dalam matrix, karena itu semua pengalaman kehidupan-nya dimulai di dalam matrix. Semua yang ia lihat, rasakan dan alami di dalam matriks sama persis seperti sensasi syarafnya di luar matrix. Namun ada juga umat manusia yang tidak berada di dalam matrix, manusia-manusia ini sudah berhasil membebasan otak dan syaraf mereka dari matriks dan tubuh fisik mereka dari tabung-tabung tempat “penyadapan” energi syaraf manusia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Lalu apakah hubungan matrix dengan marxist?. Ideologi Marxisme membuat hipotesis bahwa sejarah perjalanan peradaban manusia ditentukan terutama oleh perkembangan tenaga produktif. Tenaga produktif ini adalah manusia, materi (termasuk energi) dan teknologi. Marxisme juga memetaan bahwa perkembangan bentuk peradaban manusia ini paralel dengan perkembangan sistem ekonomi yang mendominasi dunia, tahap ke-1 (pertama) menurut Karl Marx adalah tahap komunisme primitif, tahap dimana tidak ada kepemilikan pribadi, dan satu keluarga berbagi seluruh sumber daya yang mereka miliki untuk bertahan hidup, tahap ke-2 adalah imperialisme, dimana sebuah suku atau keluarga mulai menyerang dan mengambil hak sumber daya dari suku/keluarga yang lain, pada tahap ini mulai terdapat sistem politik dan sistem kepercayaan yang cukup rumit untuk menentukan siapa yang menjadi penguasa, tahap ke-3 adalah Feodalisme, tahap dimana imperialisme runtuh karena tidak mampu lagi secara militer menjaga sumber dayanya sendiri, pada tahap ini terjadi distribusi kekuasaan dari atas ke bawah, dengan orang-orang lokal sebagai penerus kekuasaan sisa imperialisme yang sudah terdistribusi. Tahap ke-4 adalah Kapitalisme, dimana terjadi perdagangan bebas antar negara yang tidak mengenal lagi batas-batas identitas, pada tahap ini terjadi sentralisasi tenaga produktif dalam tingkatan paling tinggi karena hilangnya faktor identitas, modal, alat produksi, dan tenaga produktif semuanya bisa memiliki asal geografis yang berbeda-beda lewat perantara institusi paling berkuasa di zaman kapitalisme (bahkan kadang lebih berkuasa dari negara) yang berupa korporasi modern. Tahap ke-5 (menurut Vladimir Ilyich Lenin, karena tahap ini tidak disebutkan oleh Marx) adalah Sosialisme, tahap dimana setelah merasakan kapitalisme umat manusia baru menyadari kekeliruan dan kemustahilan dalam prinsip ekonomi kapitalisme dalam menciptaan kesejahteraan yang merata pada umat manusia, dalam sosialisme faktor produksi dimiliki oleh negara, sudah terdapat pembagian upah yang sesuai dengan perhitungan tenaga kerja yang dikeluarkan namun masih terdapat segregasi kelas-kelas sosial dalam masyarakat. Tahap ke-6 adalah Komunisme, sebuah zaman yang menjadi cita-cita para penganut<span>  </span>Marxisme seluruh dunia, zaman dimana tidak ada lagi kelas-kelas sosial dalam masyarakat yang diciptakan oleh pemilikan faktor produksi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Untuk memahami hubungan antara filosofi dan latar belakang sejarah film Matrix dengan marxisme, pertama-pertama perlu dimengerti apa yang mendorong perkembangan tenaga produktif dalam setiap tahap perkembangan peradaban manusia. Hal ini dicapai dengan sedikit membahas intisari “Das Capital”. Perkembangan tenaga produktif sejak awal peradaban manusia terjadi karena banyak faktor, baik pertumbuhan populasi manusia itu sendiri, maupun diakibatan karena perkembangan teknologi. Dalam tahap kapitalisme terjadi perkembangan tenaga produktif yang paling besar namun juga terdapat hambatan terbesar bagi perkembangannya, yaitu kepemilikan faktor produksi. Penumpukan dan konsentrasi kepemilikan faktor produksi yang dimulai dari tahapan imperialisme secara historis mencapai puncaknya pada tahap kapitalisme, dimana begitu banyak kekayaan terpusat pada segelintir orang, pemusatan ini melahiran inefisiensi besar-besaran, terutama akibat rendahnya aau tidak sesuainya upah pekerja berbagai macam sektor industri di seluruh dunia. Dalam menghitung berapa seharusnya upah pekerja, terdapat perhitungan sebagai contoh; (a) nilai material + (b) nilai tambah produk dari mesin + (c) nilai tenaga pekerja + (d) nilai penyusutan mesin = (e) harga akhir sebuah produk. Dalam mayoritas statistik nilai (a), (b), dan (d) sangatlah jauh dengan (e), yang menghasilkan margin keuntungan yang sangat besar bagi pemilik modal namun pemenuhan upah pekerja (c) yang tidak sesuai dengan hasil kerjanya. Inilah inefisensi atau faktor penghambat perkembangan tenaga produktif yang utama yang diakibatan oleh adanya kepemilikan modal, karena kepemilikan modal menjadikan penentuan upah pekerja (c) sebagai otoritas penuh pemilik modal, yang pada gilirannya menciptakan kesempatan perbudakan atas sesama manusia dalam makna yang modern.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Hambatan atas perkembangan tenaga produktif ini tidak dapat terjadi terus-menerus, karena menurut Karl Marx dengan hukum Materialisme Dialektika Historis (MDH) -nya, secara alamiah, puncak ketidakadilan pada tahap kapitalisme akan melahirkan revolusi proletar, dimana pada akhirnya kelas sosial dengan jumlah dan kontribusi tenaga paling banyak dalam menggulirkan roda perekonomian akan mengambil atau menuntut haknya yang tidak dipenuhi dengan jalan parlementer maupun ekstra-parlementer, pengambil-alihan ini akan memindahan kepemilikan faktor produksi kepada kelas pekerja. Menurut Marx, terjadinya revolusi ini merupakan keniscayaan, karena pada akhirnya faktor produksi akan dimiliki oleh kelas sosial yang mengeluarkan tenaga paling banyak dalam proses produksi. Tenaga yang dimaksud oleh Marx dalam hal ini selain fisik juga termasuk mental. Inilah prinsip materialisme Marxist yang sebentar lagi akan kita bandingan dengan apa yang terjadi dalam sejarah latar belakang film Matrix.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Materialisme Marxist menekankan pada rasionalitas, logika dan hukum-hukum alam dalam menganalisa gejala-gejala sosial. Dalam materialisme Marx tidak ada tempat bagi hal-hal yang bersifat supra-natural, irasional dan tidak logis, ini berarti tidak ada tempat bagi Tuhan, agama dan hal-hal gaib dalam faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan tenaga produktif. Menurut Marx, perkembangan tenaga produktif sepenuhnya dipengaruhi oleh hal-hal yang sifatnya materil seperti jumlah sumber daya alam, jumlah populasi, perkembangan teknologi dan sebagainya. Bahkan tidak ada tempat bagi eksistensialisme manusia itu sendiri, karena penekanan ada pada efisiensi tenaga dan materi, bukan pada eksistensi manusia. Hal ini persis terjadi dalam Matrix, perkembangan teknologi mesin, robot dan kecerdasan buatan telah mencapai efisiensi puncaknya sehingga dapat berpikir sendiri untuk mengambil alih seluruh faktor produksi (revolusi mesin) yang dimiliki oleh manusia, sebuah peristiwa yang sama dengan revolusi proletar. Titik fatal dalam dialektika historis Matrix ada pada tindakan manusia “meng-outsurcing-kan” otoritas paling penting yang dimilikinya sendiri, yaitu kemampuan berpikir, kecerdasan dan bahkan kesadaran kepada robot dan mesin yang tidak hidup, tidak bernyawa, tidak berhati dan tidak mampu membuat pertimbangan yang manusiawi. Dalam kerangka pikiran Marx, eksistensi non-material manusia (apalagi Tuhan) memang tidak dibahas, tidak dianggap punya pengaruh, dan tidak menjadi variabel dalam mekanisme perhitungan dialektika historisnya, namun ketika umat manusia sendiri yang kemudian menjadi korban atas efisiensi dan arogansi filsafat materialisme Marx dalam dialektika sejarah-nya, apa lagi yang bisa dikatakan oleh para pengikut Marx?.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Marxisme diseluruh dunia diidentikkan dengan ateisme, jutaan orang pendukungnya berargumen bahwa filsafat materialisme dalam marxisme bukan menegasikan Tuhan dan hal-hal non-materi, hanya tidak membahasnya dan tidak menghitungnya dalam kalkulasi dialektika sejarah. Mengapa Marx yang seorang Yahudi tidak mengikutsertaan Tuhan dalam salah satu karya terbesar pemikirannya atas umat manusia?, terlepas dari kerja keras dan segala jasa Marx bagi kaum tertindas di seluruh dunia, mengapa ia tidak memberi tempat bagi eksistensi immaterial manusia dalam pemikirannya?. Bagi seorang pendukung Marx yang kritis pasti sudah melihat jawaban ini semua, marxisme harus dipakai dan dilihat dalam konteks <i>zeitgeist</i> atau situasi dan pergerakan zaman, marxisme harus dilihat dalam konteks momentum perubahan, revolusi dan sebagai lensa fokus dalam membedah masalah sosial manusia, tapi marxisme tidak bisa menjadi “<i>grand theory </i>” apalagi “<i>theory of everything”</i> dalam hal analisa sosial umat manusia. Karena Marx membuat teorinya bukan untuk sebuah kepuasan, ego keilmuan, atau sekedar mencatat namanya dalam sejarah, namun untuk membebaskan seluruh umat manusia dari penindasan ekonomi.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jonindo.wordpress.com/15/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jonindo.wordpress.com/15/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jonindo.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jonindo.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jonindo.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jonindo.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jonindo.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jonindo.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jonindo.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jonindo.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jonindo.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jonindo.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jonindo.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jonindo.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jonindo.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jonindo.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jonindo.wordpress.com&amp;blog=2338998&amp;post=15&amp;subd=jonindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jonindo.wordpress.com/2008/01/10/matrixs-dan-marxist/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c570dcb3d9fb971a49f854fc71b5d517?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">jonindo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sampai Kapan Pendidikan Menjadi Rantai Jiwa dan Hati Anak Negeri ?</title>
		<link>http://jonindo.wordpress.com/2008/01/10/sampai-kapan-pendidikan-menjadi-rantai-jiwa-dan-hati-anak-negeri/</link>
		<comments>http://jonindo.wordpress.com/2008/01/10/sampai-kapan-pendidikan-menjadi-rantai-jiwa-dan-hati-anak-negeri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jan 2008 01:55:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jonindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Psychology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jonindo.wordpress.com/2008/01/10/sampai-kapan-pendidikan-menjadi-rantai-jiwa-dan-hati-anak-negeri/</guid>
		<description><![CDATA[Mengenang wafatnya Bapak Fuad Hasan, mantan menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Lewat novel ’Max Havelaar’ (1860) karya Douwes Dekker, bangsa Indonesia diberikan berkah oleh Tuhan Y.M.E. untuk mengecap belas kasihan pemerintah kolonial Belanda lewat ’politik etis’ dalam tiga perkara : Pendidikan, Irigasi dan Transmigrasi. Lewat pendidikanlah anak-anak bangsa ini membuktikan harga dirinya sebagai manusia. Lahirnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jonindo.wordpress.com&amp;blog=2338998&amp;post=14&amp;subd=jonindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;"></span><b><span style="font-size:18pt;"></span></b><span style="font-size:10pt;">Mengenang wafatnya Bapak Fuad Hasan, mantan menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Lewat novel ’Max Havelaar’ (1860) karya Douwes Dekker, bangsa Indonesia diberikan berkah oleh Tuhan<span>  </span>Y.M.E. untuk mengecap belas kasihan pemerintah kolonial Belanda lewat ’politik etis’ dalam tiga perkara : Pendidikan, Irigasi dan Transmigrasi. Lewat pendidikanlah anak-anak bangsa ini membuktikan harga dirinya sebagai manusia. Lahirnya tokoh-tokoh nasional yang detik-detik kehidupan, tarikan nafas dan tetes keringatnya dibaktikan untuk pertiwi adalah buah surga dari pendidikan. Lewat pendidikanlah anak-anak bangsa memahami kolonialisme, imperialisme dan kewajiban perjuangan untuk revolusi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Namun pendidikan tidak dapat bebas dari tangan kotor manusia. Salah satunya yang berupa pertentangan ide Gubernur Van Heutz dengan pendidikan keterampilan untuk rakyat kecil dan Abendanon dengan pendidikan untuk kaum elitnya adalah sandiwara politik internasional untuk konsumsi nasional rakyat Belanda. Pendidikan keterampilan untuk rakyat kecil tidak lain hanyalah usaha persiapan kuli-kuli (juru tulis-hitung-ketik dll) untuk tumbuhnya perusahaan-perusahaan Belanda, sedang pendidikan untuk kaum elit/priyayi adalah sarana akulturasi kebudayaan Eropa sekaligus kendali politik pada kelas sosial bangsawan dan pedagang-pedagang kaya agar tetap tumpul, jinak dan menelan habis archetype (pola pikir) pendidikan sebagai status dan nilai diri simbolik dalam gerak naik dari kelas sosial satu ke yang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Namun kekuatan hakiki pendidikan adalah menyadarkan manusia akan eksistensinya. Suatu kekuatan mekanik yang berjalan dengan pasti walau sedemikian rupa pendidikan secara struktur dan material berusaha dikuasai oleh maksud manusia. Sejarah menjadi saksi, Pendidikan telah melahirkan pergerakan terorganisir dari berbagai kelas sosial pada sebuah bangsa dengan jumlah suku, bahasa dan budaya terbanyak di dunia. Pendidikan telah melahirkan revolusi, yang walaupun belum selesai, telah memberi kemerdekaan dan kedaulatan bagi negeri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Setengah abad lebih sejarah pendidikan telah berumur di negeri ini. Sebuah archetype (pola pikir) yang dulu menjadi siasat pemerintah kolonial Belanda ternyata adalah archetype yang juga disiapkan secara global untuk negara-negara dunia ketiga. Sebuah archetype yang juga sudah menghunjam kedalam bawah sadar dua, tiga sampai empat generasi setelah revolusi kemerdekaan, bahwa pendidikan adalah atribut simbolis status dan nilai diri dalam segregasi kelas-kelas sosial kehidupan. Mayoritas bangsa ini dari tingkat terendah sampai tertinggi sudah tidak (atau tidak pernah) memahami lagi kekuatan hakiki dan kewajiban yang lahir dari rahim pendidikan. Mayoritas pengenyam pendidikan tidak lagi sadar telah menjadi pelayan bagi minoritas kekuatan sosial-politik-ekonomi internasional yang sedang menjalankan imperialisme modern. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Dalam ketidaksadaran ini, pendidikan dalam segala bentuk simbolis dan hakikatnya tetap akan memiliki kekuatan mulia. Dan sekali lagi kekuatan ini akan bekerja sesuai kodratnya, memerdekakan manusia dari penindasan dan memberi jalan bagi penemuan eksistensinya. Jiwa-jiwa yang berpikir akan melihat ke kedalaman hatinya, dibalik syariat, dibalik marifat dan pada hakikat. Kemudian Jiwa-jiwa yang berhati akan berpikir, melihat ke kedalaman ilmunya, dibalik simbol, dibalik kebenaran dan akhirnya pada tanggung jawab dan kewajiban. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Dan untuk semua pahlawan pendidikan Nusantara yang telah berpulang pada-Nya, selamat jalan dan terima kasih, bangga kami, perjuangan dan doa-doa kami menyertai kalian selalu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">(8-12-2007-RT.SLMB)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jonindo.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jonindo.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jonindo.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jonindo.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jonindo.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jonindo.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jonindo.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jonindo.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jonindo.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jonindo.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jonindo.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jonindo.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jonindo.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jonindo.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jonindo.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jonindo.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jonindo.wordpress.com&amp;blog=2338998&amp;post=14&amp;subd=jonindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jonindo.wordpress.com/2008/01/10/sampai-kapan-pendidikan-menjadi-rantai-jiwa-dan-hati-anak-negeri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c570dcb3d9fb971a49f854fc71b5d517?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">jonindo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Suara Orang-Orang Yang Terdidik</title>
		<link>http://jonindo.wordpress.com/2008/01/10/suara-orang-orang-yang-terdidik/</link>
		<comments>http://jonindo.wordpress.com/2008/01/10/suara-orang-orang-yang-terdidik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jan 2008 01:55:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jonindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Psychology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jonindo.wordpress.com/2008/01/10/suara-orang-orang-yang-terdidik/</guid>
		<description><![CDATA[Sejak zaman kolonial pendidikan merupakan alat pembantu pengembangan tenaga produktif. Politik Etis yang dilakukan oleh Belanda dalam bentuk pembangunan sekolah-sekolah untuk pribumi adalah semata untuk mennghasilkan tenaga kerja murah yang dapat menyokong pengembangan pabrik-pabrik dan usaha-usaha yang dijalankan oleh Belanda. Juru ketik, juru tulis, juru hitung, juru catat dan lain sebagainya adalah profesi-profesi utama hasil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jonindo.wordpress.com&amp;blog=2338998&amp;post=13&amp;subd=jonindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Sejak zaman kolonial pendidikan merupakan alat pembantu pengembangan tenaga produktif. Politik Etis yang dilakukan oleh Belanda dalam bentuk pembangunan sekolah-sekolah untuk pribumi adalah semata untuk mennghasilkan tenaga kerja murah yang dapat menyokong pengembangan pabrik-pabrik dan usaha-usaha yang dijalankan oleh Belanda. Juru ketik, juru tulis, juru hitung, juru catat dan lain sebagainya adalah profesi-profesi utama hasil Politik Etis Belanda. Bila kita melompat ke masa sekarang tanpa membahas perjalanan sejarah bangsa Indonesia, kita akan melihat bahwa pada masa kini keadaannya tidaklah jauh berbeda. Berbagai profesi yang sangat dihargai oleh masyarakat dipaksa oleh struktur ekonomi dan sosial untuk melayani hanya kaum yang berpunya. Profesi-profesi seperti Guru, Dokter, Insinyur dan sebagainya merupakan pembangun-pembangun bangsa yang seharusnya dihargai dengan sangat tinggi oleh negara. Namun sistem ekonomi kapitalisme yang dianut oleh pemerintahan kita membuatnya menjadi semakin terseret ke dalam kekuatan pemilikian modal. Bila sebuah negara membiayai pendidikan rakyatnya, maka negara tersebut akan mendapat hasil berupa tenaga kerja yang unggul dalam membangun bangsa, namun bila pendidikan diselenggarakan dengan modal asing ataupun menghisap modal peserta didiknya, individu-individu yang mengecapnya tidak akan atau sangat sulit untuk melihat dirinya sebagai modal yang dimiliki sebuah negara, sebagai individu yang mencari pencapaian aktualisasi diri dan sekaligus juga mengemban tanggung jawab kepada bangsa dan negaranya. Individu-individu ini akan melihat dunia sebagai hutan rimba yang ganas, kalau tidak memakan orang lain maka ia akan dimakan orang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Singkat kata, sistem pendidikan yang diserahkan pada mekanisme pasar seperti layaknya berbagai jenis barang dagangan hanya akan melahirkan generasi-generasi dengan individualisme tinggi. Apa yang aku korbankan untuk mendapat pendidikan harus aku dapatkan kembali setelah lulus. Uang menjadi motivasi bawah sadar dalam gambaran besar ini. Pada titik kesadaran massa pengenyam pendidikan yang inilah, kapitalisme menyambung ceritanya dalam dunia kerja. Kerja yang enak dan berpenghasilan tinggi identik dengan pendidikan dan kualifikasi yang tinggi juga, karena itu membutuhkan pendidikan tinggi dengan biaya tinggi. Maka habislah sudah jiwa-jiwa harapan bangsa. Diperas dan ditarik-ulur dalam sebuah perdagangan tenaga kerja. Ketika modal dan hasil modal pendidikan tidak lagi dimiliki oleh negara, maka siapa yang memilikinya? Hanya diri sendiri, pemilik modal lembaga pendidikan dan pasaran tenaga kerja yang tak ubahnya seperti hutan rimba nan ganas. Sudah jarang terbersit lagi dalam benak insan-insan pendidikan bahwa pendidikan melahirkan tanggung jawab sosial dan moral yang tinggi untuk bangsa dan negaranya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Dari paparan di atas, perlulah untuk menyimpulkan apa sebenarnya tujuan mulia pendidikan, Paulo Freire mengatakan :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">1) Pendidikan ditujukan pada kaum tertindas dengan tidak berupaya menempatkan kaum tertindas dan penindas pada dua kutub berseberangan. Pendidikan bukan dilaksanakan atas kemurah-hatian palsu kaum penindas untuk mempertahankan status quo melalui penciptaan dan legitimasi kesenjangan. Pendidikan kaum tertindas lebih diarahkan pada pembebasan perasaan/idealisme melalui persinggungannya dengan keadaan nyata dan praksis. Penyadaran atas kemanusiaan secara utuh bukan diperoleh dari kaum penindas, melainkan dari diri sendiri. Dari sini sang subjek-didik membebaskan dirinya, bukan untuk kemudian menjelma sebagai kaum penindas baru, melainkan ikut membebaskan kaum penindas itu sendiri. Pendidikan ini bukan bertujuan untuk menjadikan kaum tertindas menjadi lebih terpelajar, tetapi untuk membebaskan dan mencapai kesejajaran pembagian pengetahuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">2) Bila pembebasan sudah tercapai, pendidikan Freire adalah suatu kampanye dialogis sebagai suatu usaha pemanusiaan secara terus-menerus. Pendidikan bukan menuntut ilmu, tetapi bertukar pikiran dan saling mendapatkan ilmu (kemanusiaan) yang merupakan hak bagi semua orang tanpa kecuali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">3) Kesadaran dan kebersamaan adalah kata-kata kunci dari pendidikan yang membebaskan dan kemudian memanusiakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Dari padangan-pandangan pendidikan yang ditegaskan oleh Freire, point pertama menunjukkan bagaimana Freire dengan jeli melihat hegemoni sistem kapitalisme dalam menguasai modal-modal pendidikan dan hasil-hasilnya, dengan menyebut kaum penindas dan kaum tertindas, Freire dengan tegas menjelaskan keadaan sistem pendidikan sekarang sebagai perpanjangan dan sekaligus infus penyambung nyawa kapitalisme. Sedangkan pada point kedua Freire menjelaskan masa depan pendidikan apabila pembebasan telah tercapai. Menurut Freire, pendidikan adalah hak semua, digunakan untuk kepentingan semua dan menekankan pada partisispasi dan kontribusi semua orang. Pada point terakhir, Freire menyatakan bahwa kesadaran (pemahaman konseptual dan keyakinan akan praktek) dan kebersamaan (hak, guna dan partisipasi pendidikan oleh semua) sebagai dua modal utama agar pendidikan dapat membebaskan dan memanusiakan manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Dalam zaman dimana pendidikan masih menjadi komoditas, kesadaran untuk membebaskan diri sendiri dan manusia lain menjadi tanggung-jawab segelintir orang yang mengenyamnya dengan baik. Walaupun di tengah kondisi yang memberatkan munculnya kesadaran ini, baik di tengah-tengah masyarakat, kalangan akademisi maupun mahasiswa. Hukum dialektika perkembangan zaman akan menunjukkan bahwa munculnya kesadaran ini adalah mutlak. Hanya menunggu kapan dan bagaimana. Sebagai kaum yang terdidik, malulah kita jika kesadaran ini harus diajarkan oleh orang-orang yang tidak beruntung dalam mengenyam pendidikan.</span><span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jonindo.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jonindo.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jonindo.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jonindo.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jonindo.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jonindo.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jonindo.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jonindo.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jonindo.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jonindo.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jonindo.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jonindo.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jonindo.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jonindo.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jonindo.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jonindo.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jonindo.wordpress.com&amp;blog=2338998&amp;post=13&amp;subd=jonindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jonindo.wordpress.com/2008/01/10/suara-orang-orang-yang-terdidik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c570dcb3d9fb971a49f854fc71b5d517?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">jonindo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>I La Galigo, Sulawesi dan Atlantis</title>
		<link>http://jonindo.wordpress.com/2008/01/10/i-la-galigo-sulawesi-dan-atlantis/</link>
		<comments>http://jonindo.wordpress.com/2008/01/10/i-la-galigo-sulawesi-dan-atlantis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jan 2008 01:55:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jonindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Archaeology]]></category>
		<category><![CDATA[Culture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jonindo.wordpress.com/2008/01/10/i-la-galigo-sulawesi-dan-atlantis/</guid>
		<description><![CDATA[Jika Yunani memiliki Odysseus dan India memiliki Mahabharata, tanah Bugis ternyata melahirkan sebuah epos sastra yang tertua dan terpanjang di dunia. Mengisahkan mengenai dewa – dewa dan ratusan keturunannya, asal usul manusia Sulawesi, kisah mengenai sejarah kerajaan – kerajaan di Sulawesi selama enam generasi turun &#8211; temurun dan perjalanan seorang Sawerigading dan keturunannya, I La [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jonindo.wordpress.com&amp;blog=2338998&amp;post=10&amp;subd=jonindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Jika Yunani memiliki Odysseus dan India memiliki Mahabharata, tanah Bugis ternyata melahirkan sebuah epos sastra yang tertua dan terpanjang di dunia. Mengisahkan mengenai dewa – dewa dan ratusan keturunannya, asal usul manusia Sulawesi, kisah mengenai sejarah kerajaan – kerajaan di Sulawesi selama enam generasi turun &#8211; temurun dan perjalanan seorang Sawerigading dan keturunannya, I La galigo, sebagai alur cerita utama. I La Galigo dipenuhi oleh mitos, mistisisme dan falsafah hidup. I La Galigo menceritakan sebuah masa dimana manusia masih berhubungan dekat dengan dewa – dewa dan mahluk – mahluk dari dunia yang berbeda dapat saling berkunjung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">I La Galigo dipercaya oleh masyarakat Bugis sebagai kitab yang sakral, dimana untuk membacanya harus melakukan ritual terlebih dahulu. Banyak masyarakat Bugis yang percaya bahwa peristiwa – peristiwa dalam I La Galigo benar – benar terjadi. Betapa dahsyatnya epik La Galigo karena ia merekam sebuah masa dimana terjadi perubahan geologis besar – besaran di wilayah nusantara, dimana lautan menjadi daratan (mungkin merupakan aktivitas volkanik dari dasar laut) dan daratan menjadi lautan (naiknya permukaan air laut secara besar &#8211; besaran) yang bukan merupakan hal aneh mengingat pulau Sulawesi merupakan pertemuan dari tiga barisan gunung berapi di planet bumi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Entah merupakan mitologi atau sebuah kebenaran, berbagai kepingan yang terpisah dari sejarah nusantara yang misterius mulai bermunculan. Catatan arkeologi menunjukkan bahwa Sulawesi selatan mulai dihuni manusia purba sejak 50.000 tahun yang lalu (seumur dengan manusia wajak, yang ditemukan di pulau Jawa), ini adalah hal yang menarik jika melihat perspektif yang didapat dari penelitian penelusuran genetik manusia (genographic project) yang menyebutkan bahwa migrasi manusia besar – besaran dari benua – ke benua dimulai pada 50.000 tahun yang lalu. Pada kisaran waktu itu, belum ada sama sekali teknologi perahu yang memungkinkan manusia mengarungi laut dalam, sedangkan pulau Sulawesi tidak pernah bersambung daratan dengan pulau nusantara lainnya seperti Kalimantan dengan Jawa dan Sumatera (pada kisaran regresi air laut terendah sekitar 20000 tahun lalu di zaman Pleistosen). Buku sejarah formal menyatakan bahwa ras proto-melayu (ras Melayu tua) di Sulawesi datang dari Asia, lewat Taiwan dan Filipina, tapi ini merupakan kejadian ribuan tahun setelah masa Pleistosen berakhir. Sedangkan menurut Arkeolog, Sulawesi sudah dihuni manusia purba jauh sebelum itu. Lalu darimanakah asal – usul manusia purba di Sulawesi ?.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Menurut kepercayaan masyarakat Toraja, manusia pertama diturunkan di perbukitan yang sekarang bernama Ussu’ (daerah kerajaan Luwu’ di dekat teluk Bone). Sesuai dengan siklus La galigo yang menyatakan bahwa manusia pertama, Batara Guru yang bergelar Raja Bumi atau Alekawa (anak La Patiganna, yang bergelar Raja Langit) yang berkawin dengan We Nyili’timo’ (anak Guru Ri Selleng, yang bergelar Raja Alam Gaib) turun di Ussu’. I La Galigo memulai kisahnya dengan keadaan dunia seperti pada kepercayaan Yunani kuno tentang dewa – dewi. Dan kemudian dilanjutkan dengan perjalanan cucu La Patiganna, Sawerigading (anak La Tiuleng Batara Lattu’) ke berbagai daerah di nusantara seperti Taranate Ternate di Maluku , Gima atau Bima atau Sumbawa), Jawa Rilau&#8217; dan Jawa Ritengnga (kemungkinan Jawa Timur dan Tengah), Sunra Rilau&#8217; dan Sunra Riaja (kemungkinan Sunda Timur dan Sunda Barat) dan Malaka sampai pada kerajaan Cina. </span><span style="font-size:10pt;">Sawerigading juga dikisahkan berkunjung ke Surga dan Alam Gaib. Pelayaran Sawerigading yang merupakan kapten kapal yang hebat itu diiringi juga oleh perubahan geologis besar – besaran di nusantara yang diceritakan secara mitologis sebagai akibat magis dari anjingnya (Buri).</span><span style="font-size:10pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Demikian introduksi (yang lumayan melantur ke sembarang topik) dari I La Galigo, sebuah epik sastra tertua dan terpanjang di dunia, dimana belum ditemukan lengkap semua manuskripnya sampai sekarang, dimana 5400 literaturnya dimiliki dan berada di musium Eropa, 600 literatur berada di Sulawesi dan sisanya tersebar dalam tradisi lisan dan dongeng orang – orang tua di Sulawesi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">I La Galigo telah di pentaskan di Lincoln Centre di New York, Teater Esplanade Singapura</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">dan di Jakarta sendiri Namun sangat disayangkan betapa sedikit telinga anak muda Indonesia yang sekedar pernah mendengar nama I La Galigo. Dibarengi lagi dengan munculnya buku “Atlantis : The Lost Continent Finally Found” karangan profesor Aryo Santos yang merujuk kepada kepulauan Indonesia sebagai bekas lokasi persis pusat kebudayaan dari peradaban tertinggi yang pernah ada di bumi yang kalah populer dibanding Harry Potter terbaru atau novel &#8211; novel Paulo Coelho. Kembali pada riwayat geologis, pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan merupakan sebuah satu kesatuan benua di masa lampau, dan baru dipisahkan dan terendam oleh air laut sekitar 15000 tahun yang lalu, kisaran waktu yang sama dimana Plato meyakini Atlantis ditenggelamkan oleh bencana alam (cataclysmic) yang berasal dari darat dan laut (tsunami dan letusan gunung berapi) dalam waktu sehari semalam, sehingga tidak menyisakan apa – apa selain cerita (yang dianggap fiksi oleh banyak orang) tentang Atlantis. Bila pulau Sulawesi merupakan tetangga yang menyaksikan bencana dahsyat tersebut, apakah La Galigo sebenarnya merupakan lembaran baru catatan sejarah nusantara yang ditulis oleh keturunan orang – orang Atlantis?.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Sumber :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span><span style="font-family:'Times New Roman';">“<i>The I La Galigo Epic Cycle of South Celebes and its Diffusion</i>” oleh Andi Zainal Abidin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Times New Roman';">“<i>Manusia Bugis</i>” oleh Christian Pelras. </span></p>
<pre><span style="font-family:'Times New Roman';"> http://philtar.ucsm.ac.uk/encyclopedia/indon/bugis.html</span> <span style="font-family:'Times New Roman';"> “<i>Atlantis : The Lost Continent Finally Found</i>” oleh Prof. Arysio Nunes dos Santos. </span> <span style="font-family:'Times New Roman';"> http://www.atlan.org/</span></pre>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jonindo.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jonindo.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jonindo.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jonindo.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jonindo.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jonindo.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jonindo.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jonindo.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jonindo.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jonindo.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jonindo.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jonindo.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jonindo.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jonindo.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jonindo.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jonindo.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jonindo.wordpress.com&amp;blog=2338998&amp;post=10&amp;subd=jonindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jonindo.wordpress.com/2008/01/10/i-la-galigo-sulawesi-dan-atlantis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c570dcb3d9fb971a49f854fc71b5d517?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">jonindo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengaruh Gamelan Jawa Terhadap Komposisi Musik Claude Debussy</title>
		<link>http://jonindo.wordpress.com/2008/01/10/pengaruh-gamelan-jawa-terhadap-komposisi-musik-claude-debussy/</link>
		<comments>http://jonindo.wordpress.com/2008/01/10/pengaruh-gamelan-jawa-terhadap-komposisi-musik-claude-debussy/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jan 2008 01:54:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jonindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Psychology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jonindo.wordpress.com/2008/01/10/pengaruh-gamelan-jawa-terhadap-komposisi-musik-claude-debussy/</guid>
		<description><![CDATA[Pada Tahun 1889, dalam rangka memperingati seabad revolusi Prancis, negara tersebut mengadakan sebuah pekan raya sekaligus acara peresmian menara Eiffel. Pada kesempatan tersebut, ditampilkan pemandangan yang cukup asing bagi masyarakat Eropa. Beberapa gong perunggu dan gamelan Jawa. Begitu dimainkan, bunyi-bunyian gending yang khas dan ritme harmonisnya yang asing menginspirasi seorang musisi klasik besar dunia, Claude [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jonindo.wordpress.com&amp;blog=2338998&amp;post=9&amp;subd=jonindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span style="font-family:Arial;"></span></b><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pada Tahun 1889, dalam rangka memperingati seabad revolusi Prancis, negara tersebut mengadakan sebuah pekan raya sekaligus acara peresmian menara Eiffel. Pada kesempatan tersebut, ditampilkan pemandangan yang cukup asing bagi masyarakat Eropa. Beberapa gong perunggu dan gamelan Jawa. Begitu dimainkan, bunyi-bunyian gending yang khas dan ritme harmonisnya yang asing menginspirasi seorang musisi klasik besar dunia, Claude Debussy, yang ketika itu berumur 27 tahun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Alat pemukul gending yang berat dan alat tabuh untuk memainkan gamelan tersebut menghasilkan melodi yang berdasar pada dua irama (yang disebut laras) yang berlainan ritmenya. Masing &#8211; masing laras diikuti oleh alunan gending dengan ritme yang berbeda pula. Laras Slendro terdiri dari lima interval dalam satu oktaf, sedangkan laras Pelog terdiri dari tujuh interval yang tidak sama. Laras Slendro wajib digunakan dalam pertunjukkan wayang kulit, sedangkan laras Pelog biasa digunakan mengiringi tari – tarian perempuan atau pertunjukkan ketoprak. Pembagian laras dalam lima interval (pentatonis) pada gending Jawa sangatlah asing bagi telinga Eropa yang biasa menggunakan tujuh interval.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Walaupun demikian menurut Debussy, seni musik Timur yang kebanyakan tidak memiliki tujuh interval (dari gamelan Thailand, Jawa, Kecapi Sunda sampai Kecapi Cina) memiliki kemiripan dengan teknik permainan piano Eropa dengan tuts – tuts mekanis yang menghasilkan irama harmonis yang tidak berhubungan dengan alunan alat – alat tabuhnya. “Jika anda mendengar alunan gending Jawa dengan telinga Eropa yang normal, Anda harus mengakui bahwa musik kita tak lebih daripada sekadar bunyi – bunyian dasar sirkus keliling ”, Ujar Debussy. Selain itu menurut Debussy, struktur musik Jawa tidak memberi kesempatan ego individual untuk menjadi musisi handal ala barat. Bakat artistik dan teknik individu dalam musik Jawa menjadi elemen sekunder. Keseluruhan harmoni musik gamelan menjadi inti dari dan filosofi musik tersebut, dan bukan permainan individual.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kekaguman Debussy terhadap musik gamelan Jawa terlihat dari warna nada pentatonik pada karya – karya seperti Pagodes (Pagoda), d’Estampes (ilustrasi), dua belas prelude (1910 &#8211; 1913), La fille aux cheveux de lin (Gadis berambut linen), Feulis mortes (Daun – daun kering) dan masih banyak lagi karya lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Teknik bermusik yang ditunjukkan oleh Debussy adalah hasil dari inspirasi musik gamelan Jawa, Debussy mengeksplorasi efek resonansi nada – nada dari tuts yang ditekan ketika bunyinya hilang secara perlahan yang merupakan karakter dari musik gamelan Jawa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pada uraian diatas dapat dilihat bahwa akulturasi budaya dapat terjadi kapan dan dimana saja manusia berada. Kasus Claude Debussy yang terinspirasi oleh musik gamelan Jawa, adalah kasus yang jarang terjadi pada masa itu dalam perkembangan khazanah musik klasik Eropa. Banyak kebudayaan di Asia yang memperlakukan nada dengan bebas dalam hal ketinggian, resonansi, amplitudo atau warna nada (tonal) serta frekuensinya. Ini adalah karakter umum dari kebanyakan musik dari timur. Sedangkan Eropa (pada saat itu) adalah negeri dengan musisi – musisi klasik besar dunia yang mempersepsi bahwa musik yang baik adalah musik yang dikomposisi dengan nada – nada yang stabil, frekuensi yang teratur, amplitudo yang tetap, sebuah khazanah musik yang menekankan pada variasi melodi, dan bukan improvisasi pada setiap penggal nada. Bagaimanapun juga nada – nada yang ‘dimainkan’ inilah adalah persepsi keindahan sebuah musik bagi musisi dari timur (Maher 1997).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pada masanya, kontak antara Claude Debussy dengan gamelan Jawa merupakan hal yang sulit terjadi begitu saja, hubungan antara negara – negara Eropa dengan negeri – negeri Hindia pada saat itu adalah hubungan dagang dan kolonialisme. Yang lebih dominan terjadi saat itu adalah imperialisme kultur dari negara penjajah kepada koloninya, dimana yang lebih sering terjadi adalah akulturasi budaya oleh koloni terhadap budaya penjajah, dan bukan sebaliknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Menurut kebanyakan ahli psikologi, perbedaan sensori antar manusia dari budaya yang berbeda tidaklah banyak, tidak signifikan dan tidak punya pengaruh bagi perilaku manusia tersebut. Namun inderawi semata tidak dapat menjelaskan mengapa transmisi seni budaya yang seharusnya murni merupakan persepsi estetika semata terjadi mengikuti arus gelombang sejarah, politik dan perebutan kekuasaan dan kekayaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Hal ini dapat dijelaskan dalam kerangka persepsi, manusia mempersepsi sesuatu sangat tergantung dari kecenderungan budaya mereka masing – masing dalam melihat sesuatu sebagai indah atau buruk, hal ini sangat berlaku pula bagi musik, bagaimana suatu bangsa memandang dirinya sendiri dibandingkan dengan bangsa lain adalah sebuah fungsi budaya, yang dapat mempengaruhi persepsi estetika. Ini menyebabkan persepsi estetika bisa merupakan gabungan rumit berbagai fungsi lain seperti kepribadian, status sosial, situasi dan kesempatan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dalam konteks akulturasi, persepsi yang terbuka dan siap menerima dan menghargai berbagai hal baru adalah karakter yang jelas – jelas dimiliki oleh Debussy. Ia sendiri telah dapat menangkap filosofi dari struktur musik gamelan Jawa yang memiliki karakter repetitif, tidak seperti musik klasik barat yang menekankan pada pergerakan maju dalam kerangka waktu atau perkembangan menuju sesuatu, musik gamelan Jawa menekankan pada ketiadaan waktu atau timelessness, siklus dalam musik gamelan melambangkan putaran kehidupan yang tidak pernah berakhir, kelahiran &#8211; kematian, kebangkitan – kehancuran, yang berputar terus menerus. Konsep seperti ini dalam musik barat merupakan sesuatu yang asing, dalam bahasa persepsi estetika musik, gamelan Jawa merupakan musik yang tidak enak didengar telinga orang Eropa pada masa itu. Bagaimanapun juga bagi seorang Debussy, akulturasi musik gamelan Jawa kedalam khazanah komposisi musik klasiknya merupakan sesuatu yang indah, akulturasi yang melahirkan berbagai karya besar dan dikagumi dunia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Demikianlah, mengenai musik gamelan, Debussy menulis :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<i>There used to be-indeed, despite the troubles that civilization has brought, there still are-some wonderful peoples who learn music as easily as one learns to breathe</i>…”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sumber :</p>
<pre>Dorleans, Bernard. 2006. Orang Indonesia dan Orang Prancis, dari Abad XVI sampai Abad XX. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). <a href="http://brenthugh.com/debnotes/gamelan.html">http://brenthugh.com/debnotes/gamelan.html</a> <a href="http://w3.rz-berlin.mpg.de/cmp/debussy.html">http://w3.rz-berlin.mpg.de/cmp/debussy.html</a> <a href="http://w3.rz-berlin.mpg.de/cmp/debussy.html">http://w3.rz-berlin.mpg.de/cmp/debussy.html</a></pre>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jonindo.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jonindo.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jonindo.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jonindo.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jonindo.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jonindo.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jonindo.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jonindo.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jonindo.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jonindo.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jonindo.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jonindo.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jonindo.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jonindo.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jonindo.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jonindo.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jonindo.wordpress.com&amp;blog=2338998&amp;post=9&amp;subd=jonindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jonindo.wordpress.com/2008/01/10/pengaruh-gamelan-jawa-terhadap-komposisi-musik-claude-debussy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c570dcb3d9fb971a49f854fc71b5d517?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">jonindo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Autisme &amp; Kapitalisme</title>
		<link>http://jonindo.wordpress.com/2008/01/10/autisme-kapitalisme/</link>
		<comments>http://jonindo.wordpress.com/2008/01/10/autisme-kapitalisme/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jan 2008 01:53:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jonindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psychology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jonindo.wordpress.com/2008/01/10/autisme-kapitalisme/</guid>
		<description><![CDATA[Apa hubungan kedua judul diatas? Bagi pembaca yang bertanya-tanya, mari kita mulai dengan membahas apa itu kapitalisme. Kapitalisme adalah sebuah sistem ekonomi dimana tujuan setiap orang adalah berkompetisi dan mengumpulkan sebanyak-banyaknya uang. Di dalam kapitalisme, pertumbuhan masyarakat yang efisien diasumsikan sebagai hasil logis dari kompetisi kapital tadi. Sedangkan autisme, adalah sebuah gangguan perkembangan mental menyeluruh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jonindo.wordpress.com&amp;blog=2338998&amp;post=8&amp;subd=jonindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span style="font-size:16pt;font-family:Arial;"></span></b><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Apa hubungan kedua judul diatas? Bagi pembaca yang bertanya-tanya, mari kita mulai dengan membahas apa itu kapitalisme. Kapitalisme adalah sebuah sistem ekonomi dimana tujuan setiap orang adalah berkompetisi dan mengumpulkan sebanyak-banyaknya uang. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Di dalam kapitalisme, pertumbuhan masyarakat yang efisien diasumsikan sebagai hasil logis dari kompetisi kapital tadi. Sedangkan autisme, adalah sebuah gangguan perkembangan mental menyeluruh (Pervasive Developmental Disorder) yang diakibatkan oleh kelainan genetik, kelainan pertumbuhan dan perkembangan syaraf atau sebuah mutasi genetik yang diakibatkan oleh zat-zat kimia, radioaktif dan radikal bebas lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Autisme sebagai gangguan perkembangan mental mulai diselidiki setelah kemunculannya yang epidemis pada sekitar awal tahun 1980-an oleh psikolog Leo Kanner. Autisme berasal dari dua kata, ‘auto’ dan ‘isme’, yang berarti cenderung pada aktifitas diri sendiri. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Autisme pertama dideteksi penyebarannya di Amerika, dengan perkembangan ilmu psikologi yang cukup pesat, autisme mulai dibedakan dan diketahui karakteristik uniknya dibandingkan dengan gangguan-gangguan perkembangan lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pada awal tahun yang sama, WHO (World Health Organization) sebagai badan kesehatan dunia mengeluarkan program pemberantasan penyakit-penyakit seperti polio, campak, cacar dan lain-lain dengan memproduksi massal untuk pertama kali vaksin-vaksin untuk didistribusikan ke negara-negara di seluruh dunia. Kandungan vaksin adalah virus yang sudah dilemahkan sehingga daya rusaknya berkurang dan tubuh dapat memproduksi sendiri anti bodi yang ampuh untuk melawannya. Vaksin-vaksin tersebut diawetkan dengan thimerosal, sebuah zat kimia yang mengandung merkuri. Pada periode tersebut dunia kedokteran sudah mengetahui dengan jelas dampak merkuri pada perkembangan syaraf manusia, dari penelitian-penelitian dan tragedi Minamata di Jepang, sudah jelas merkuri merupakan bahan yang berbahaya bagi tubuh manusia. Namun karena tubuh manusia masih dapat mentolerir merkuri dalam batas-batas sekian bagian persejuta liter, maka dibuatlah batasan mengenai berapa buah vaksin yang boleh diterima oleh anak bayi dibawah umur 6 bulan, sebuah batasan yang dilanggar dimana-mana sampai sekarang karena sekedar alasan ekonomis, efisiensi dan kepraktisan dari dokter-dokter yang tidak perduli.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pada periode awal tahun yang sama, muncullah epidemi autisme. Yang berlanjut sampai sekarang dan semakin parah, prevalensi seorang anak terkena autisme di Amerika Serikat sekarang ini  adalah 1 per 150 kelahiran. Dalam sekejap, epidemi autisme dan gangguan perkembangan serta penyakit mental lainnya juga melanda seluruh dunia, dan yang mengherankan lagi adalah kebanyakan berasal dari negara-negara dunia ketiga pengimpor vaksin buatan WHO. Pada saat ini ilmuwan-ilmuwan dari lembaga kajian obat dan makanan Amerika menyatakan bahwa ada sekitar 80.000 zat-zat kimia baru yang belum diketahui efeknya bagi tubuh manusia tetapi dalam penggunaannya berinteraksi langsung dengan manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Motivasi keuntungan? Semoga bukan, karena WHO seharusnya menjadi badan yang mendahulukan kesehatan dibandingkan keuntungan. Namun dari berbagai kebijakan-kebijakannya kita mengetahui bahwa terdapat monopoli negara-negara maju dalam urusan produksi masal dan alih teknologi farmasi. India sebagai negara yang menyanggupi memproduksi obat AIDS dengan seratus kali biaya produksi lebih murah dari Amerika ditolak mentah-mentah proposalnya oleh WHO. Indonesia-pun yang sudah menyanggupi untuk memproduksi sendiri tamiflu (vaksin untuk flu burung) juga ditolak oleh WHO. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Entah dimana akal sehat manusia ketika berurusan dengan keuntungan skala besar. Namun kecerobohan dalam berurusan dengan kesehatan manusia merupakan salah satu dosa terbesar sistem kapitalisme yang cepat atau lambat akan mengundang azab Tuhan kepada seluruh umat manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jonindo.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jonindo.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jonindo.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jonindo.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jonindo.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jonindo.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jonindo.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jonindo.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jonindo.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jonindo.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jonindo.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jonindo.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jonindo.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jonindo.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jonindo.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jonindo.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jonindo.wordpress.com&amp;blog=2338998&amp;post=8&amp;subd=jonindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jonindo.wordpress.com/2008/01/10/autisme-kapitalisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c570dcb3d9fb971a49f854fc71b5d517?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">jonindo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>A Short Story of Human Development</title>
		<link>http://jonindo.wordpress.com/2008/01/10/a-short-story-of-human-development/</link>
		<comments>http://jonindo.wordpress.com/2008/01/10/a-short-story-of-human-development/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jan 2008 01:53:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jonindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psychology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jonindo.wordpress.com/2008/01/10/a-short-story-of-human-development/</guid>
		<description><![CDATA[It all begins from the moment we arrive to this world, establishing communication with our mothers or whomever there to nurture us, developing language, first in sensorial way (where communication serve only in physiological way, to make our hunger, cold or pain or uncomfortness go away). Then the affective communication developed (communication where we demand [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jonindo.wordpress.com&amp;blog=2338998&amp;post=7&amp;subd=jonindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span style="font-size:16pt;font-family:Arial;"></span></b><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">It all begins from the moment we arrive to this world, establishing communication with our mothers or whomever there to nurture us, developing language, first in sensorial way (where communication serve only in physiological way, to make our hunger, cold or pain or uncomfortness go away).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Then the affective communication developed (communication where we demand attention from other being regardless of our internal physiological states, it’s a great moment of beauty where we need the present of others for the first time, for the sake of<span>  </span>companion itself and not for any other reason.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Then comes the pragmatic communication, where we become curious of what others are looking at, it’s a logical sequence, we receive affection all the time and now we need answer why other people doesn’t pay full attention at us at any specific time. Maybe it’s the time that our mother’s start bringing some toys for us.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Then comes the referential communication, where we start to ‘refer’ to things, visible object, but still for the ultimate purpose of drawing others attention towards the object.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">The eyegaze of a newborn babies travel from person to the referred object and back to the person again, checking that person attention, it is the first moment we try to share the world with others.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Then comes the need for language.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">And it all got complicated thousandfold times. The world expand beautifully through language, it’s time for encoding sound, intonation, even gesture to symbolize many things, we starting to use mankind greatest tools… symbols.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">So we part our way here, the mechanics is the same, our neural networks use the same physical law to grow and thrive, but our programming language is different, so it builds on different operating system, it makes us individually unique.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">The best part is.. we are human, God greatest creation, we use brain instead of silicon chips, we are capable of learning each others reality at any time during our life, but how accurate can we learn each others? Quantum physically impossible that any pair of being can ever learn each others in hundred percent of accuracy… it’s impossible for us to have exact representation of reality no matter how much we try to communicate, But that’s the beautiful part&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Evolutionary we got extraordinary urge to communicate again through the four basic level i mentioned early. Through that evolutionary urge for species survival and needs, we then construct third reality beyond mine and yours, it&#8217;s called relationship, it can be as insignificant as a meeting of eye gaze… or as complicated as love.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jonindo.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jonindo.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jonindo.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jonindo.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jonindo.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jonindo.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jonindo.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jonindo.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jonindo.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jonindo.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jonindo.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jonindo.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jonindo.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jonindo.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jonindo.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jonindo.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jonindo.wordpress.com&amp;blog=2338998&amp;post=7&amp;subd=jonindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jonindo.wordpress.com/2008/01/10/a-short-story-of-human-development/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c570dcb3d9fb971a49f854fc71b5d517?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">jonindo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bangun Kejayaan Nusantara di Laut</title>
		<link>http://jonindo.wordpress.com/2008/01/10/bangun-kejayaan-nusantara-di-laut/</link>
		<comments>http://jonindo.wordpress.com/2008/01/10/bangun-kejayaan-nusantara-di-laut/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jan 2008 01:52:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jonindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fishery]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jonindo.wordpress.com/2008/01/10/bangun-kejayaan-nusantara-di-laut/</guid>
		<description><![CDATA[Ratusan tahun yang lalu, suku Mandar di Sulawesi Selatan adalah pencipta pertama ruppong, sebuah alat penangkap ikan berbentuk tabung dengan pintu berengsel yang terbuka oleh tekanan arus laut dan otomatis menutup ketika arusnya berhenti, dengan otomatis memperangkap ikan-ikan yang terbawa bersamanya. Sebuah alat yang kemudian dikembangkan oleh FAO (Food and Agricultural Organization) di era 90-an [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jonindo.wordpress.com&amp;blog=2338998&amp;post=12&amp;subd=jonindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span style="font-size:20pt;"></span></b><span> Ratusan tahun yang lalu, suku Mandar di Sulawesi Selatan adalah pencipta pertama <i>ruppong</i>, sebuah alat penangkap ikan berbentuk tabung dengan pintu berengsel yang terbuka oleh tekanan arus laut dan otomatis menutup ketika arusnya berhenti, dengan otomatis memperangkap ikan-ikan yang terbawa bersamanya. Sebuah alat yang kemudian dikembangkan oleh FAO (Food and Agricultural Organization) di era 90-an dan diterapkan di 17 negara asia di wilayah pesisir, sebuah alat penangkap ikan yang pada zamannya merupakan teknologi paling canggih, bukan hanya di nusantara, tetapi di seluruh dunia. Suku Mandar juga memiliki perahu tradisional, yang bernama <i>Soppeng</i>, sebuah perahu layar berbadan ramping dengan dua buah cadik di kanan kirinya untuk penyeimbang. Konon, <i>Soppeng</i> adalah perahu paling cepat di dunia pada masanya, walau tidak bisa digunakan untuk menyeberangi lautan jauh. </span><span>Perahu bercadik juga merupakan teknologi yang pertama-tama lahir di nusantara, mendahului seluruh dunia dalam hal teknologi disain kapal. Selain Mandar, suku Bugis juga terkenal sejak abad 15 sebagai penjelajah pemberani dari nusantara. Pada saat kapal-kapal eropa pertama baru berdagang di Indonesia, orang Bugis sudah merambah dari mulai Cina sampai pantai barat Australia, dari pulau-pulau Oseania sampai Madagaskar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sejarah Nusantara adalah sejarah para pelaut. Jauh sebelum orang Eropa berdagang di nusantara, kerajaan Aceh, Sriwijaya, Samudera Pasai, Kutai, Banten, Demak, Maluku, Gowa, Tallo dan lainnya sudah saling berdagang satu sama lain. Dengan membawa juga pedagang-pedagang Arab, Cina dan India. Letak geografis nusantara yang merupakan titik persilangan pelayaran dunia adalah anugerah yang besar, yang kemudian membawa nusantara kepada sejarahnya sebagai ‘<i>melting pot</i>’ atau tempat berkumpulnya berbagai akulturasi dan asimilasi budaya dari seluruh dunia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sayang sekali, akibat kolonialisasi, dinamika hubungan dagang dan budaya antar pulau, antar suku dan antar kerajaan di nusantara terputus dan kehilangan momentumnya. Bahkan membawa sebuah kemunduran peradaban yang kita rasakan sampai sekarang. Bangsa ini telah lama menjauhi kodratnya sebagai manusia laut. Sejarah mencatat, bahkan sebuah kerajaan pedalaman yang konsentris seperti Majapahit pernah berhasil merubah matranya menjadi pemilik armada laut terbesar di nusantara. </span><span>Semuanya karena tekanan dan arah gerak perkembangan nusantara yang menuju pantai dan lautan lepas. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sebuah ironi, lautan nusantara masih menjadi anak tiri sampai sekarang, dari potensi 50 juta ton ikan per tahun (bila dimanfaatkan sampai 75 persen), produksi ril ikan nusantara baru mencapai 6 juta ton per tahun (FAO, 2003), itu pun sudah menempatkan nusantara di posisi produsen ikan urutan ke-6 dunia. Dengan garis pantai terpanjang di dunia (54.716 km) perikanan seharusnya menjadi andalan hampir setiap propinsi di nusantara. Dengan garis pantai yang panjang, nusantara punya potensi produksi untuk budidaya ikan (aquaculture) sebesar 58 juta ton (lebih besar dari perikanan tangkap) yang sampai sekarang baru direalisasikan sebesar 1,3 juta ton per tahun. Selain perikanan tangkap dan budidaya perikanan, potensi untuk budidaya biota laut dan non-ikan Nusantara juga sangat besar. Rumput laut, ganggang laut, teripang, kerang mutiara, kepiting dan lobster hanyalah segelintir dari ratusan jenis biota laut yang dapat dibudidayakan. Belum lagi prospek dari industri bioteknologi kelautan, potensi rumput laut sebagai pengganti bahan baku kertas, potensi ganggang sebagai biomassa untuk bahan baku methanol sampai menjadi biodiesel, dengan segala produk turunannya seperti minyak pelumas, bahan baku cat, kosmetik, dan potensi obat-obatan. Semuanya menyimpan potensi pendapatan yang sangat besar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Data menunjukan bawa konsumsi produk ikan dan produk kelautan lainnya di dunia meningkat terus setiap tahun. Dalam 30 tahun terakhir, konsumsi dunia akan ikan telah berlipat, dari 45 juta metrik ton di tahun 1973, melonjak menjadi 91 juta ton di<span>  </span>tahun 1997. Sedang dalam hal produksi ikan, peningkatan yang terjadi tidak dapat memenuhi permintaan konsumsi, dari produksi 44,5 juta ton di tahun 1973 menjadi 64,5 juta ton di tahun<span>  </span>1997 (FAO, 2003). Melihat data-data ini, Nusantara punya potensi besar untuk memenuhi permintaan dunia yang begitu besar. Pendapatan tahunan terakhir dari sektor perikanan sendiri sudah menyamai pendapatan total dari industri tekstil dalam negeri, itupun dengan masih menyisakan lebih dari 90% potensi sumber daya alam lautan kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Ironi kedua adalah yang paling penting, dari data statistik kemiskinan di Indonesia yang mencapai 24% (menurut sumber BPS, sedang menurut PBB kemiskinan di Indonesia sudah mencapai angka 50% lebih), 60%-nya adalah masyarakat yang tinggal pesisir. Tidak terolahnya sumber daya kelautan kita juga terpulang pada jumlah nelayan tradisional yang masih sebesar 85% dari seluruh tenaga produktif kelautan kita. Minimnya penanaman modal untuk pengembangan sektor kelautan, tingginya korupsi pada lembaga-lembaga penanaman modal kecil pemerintah untuk masyarakat pesisir, tingginya pencurian BBM yang sebagian besar merupakan jatah nelayan, minimnya pembangunan infrastruktur pelabuhan, penyimpanan dan pengolahan ikan serta minimnya pembangunan infrastruktur (jaringan listrik di pulau-pulau, sumber air dll) dan sosial (akses pendidikan dan kesehatan) untuk masyarakat pesisir merupakan sebagian dari penyebabnya. Sebab lain adalah orientasi perekonomian Nusantara yang selama pemerintahan orde baru dititikberatkan pada industri sambil mengesampingkan sektor pertanian dan kelautan. Janji-janji untuk memajukan masyarakat pesisir memang sudah dimulai sejak pemerintahan Megawati, namun sampai pemerintahan SBY belum ada yang terealisasi penuh. Dari mulai pembangunan 5 wilayah IHP (International Hub Port) atau Pelabuhan Internasional, infrastruktur pesisir seperti stasiun pompa bensin nelayan (SPBN), kredit terpadu untuk produksi kapal nelayan kecil, baik kayu maupun fiber, alat tangkap ikan dll. Semuanya hanya janji tinggal janji.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Dengan momentum naiknya harga BBM di awal 2008 nanti, bisa dipastikan masa depan laut kita semakin gelap. Bahan bakar solar yang menjadi darah dalam denyut nadi perekonomian masyarakat pesisir akan semakin sulit dijangkau dan makin rawan diselundupkan oleh tikus-tikus negara (karena masih disubsidi). Akar pangkal persoalannya adalah pada 500 orang Indonesia wakil rakyat kita. Mantan menteri kelautan kita, Bapak Rokhmin Dahuri, sudah menjadi korban pertama mereka, beliau yang sudah kepalang basah melihat dari dalam betapa busuknya politik para wakil rakyat mungkin hanya tersenyum meringis saat membayangkan jumlah RAPBN untuk sektor kelautan, beliau yang juga sudah mengerti kalau variabel terpenting dalam penentuan kebijakan akan terpaksa bergantung kepada jumlah dana yang mengalir ke kantong partai-partai politik hanya dapat mengiyakan ketika diminta ’menyumbang’ dalam pemilu 2004 kemarin. Dengan harap-harap cemas beliau pun menunggu mimpi akan visi kelautannya terlaksana dengan kucuran budget yang jauh lebih besar dari DPR, namun nasib buruk terjadi. Mafia-mafia politik beraksi dan diseretlah Pak Rokhmin Dahuri dengan tuduhan ’menyumbang tanpa ijin’ dari Departemen Kelautan dan Perikanan yang dipimpinnya. Pernahkah terbersit dalam benak masyarakat, mengapa orang-orang (tokoh-tokoh dan partai) yang ”meminta” Pak Rokhmin untuk ”menyumbang” tidak ikut merasaan hampa, dingin dan menyiksanya terali besi penjara?. Tidak terlintaskah di benak masyarakat Indonesia, bahwa masa depan laut Nusantara yang perkasa ternyata diikat dengan tali keserakahan, dibiarkan menyaksikan drama rebut-merebut kekuasaan oleh para wakil rakyat kita dengan berbagai macam partainya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Inilah cerita menyedihkan dibalik hening dan gelapnya dasar laut kita yang tak juga disentuh dengan rasa sayang oleh manusia-manusia Indonesia yang dianugerahkan kekayaannya oleh Tuhan. Semoga di tahun depan, tahun 2008, bangsa Indonesia dapat mengenal dan mengingat kembali kejayaan masa lalu maritimnya sambil mengembangkan layar perubahan menjelang masa depan maritim yang cerah menembus hujan badai dan carut marut akal dan moral para pemimpinnya serta melintasi gelombang globalisasi dengan sebuah kebanggaan yang terlahir kembali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="font-size:18pt;">Selamat Tahun Baru 2008</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">(29 Desember 2007 – RT.SLMB)</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jonindo.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jonindo.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jonindo.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jonindo.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jonindo.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jonindo.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jonindo.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jonindo.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jonindo.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jonindo.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jonindo.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jonindo.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jonindo.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jonindo.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jonindo.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jonindo.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jonindo.wordpress.com&amp;blog=2338998&amp;post=12&amp;subd=jonindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jonindo.wordpress.com/2008/01/10/bangun-kejayaan-nusantara-di-laut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c570dcb3d9fb971a49f854fc71b5d517?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">jonindo</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
