Mengenang wafatnya Bapak Fuad Hasan, mantan menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI
Lewat novel ’Max Havelaar’ (1860) karya Douwes Dekker, bangsa Indonesia diberikan berkah oleh Tuhan Y.M.E. untuk mengecap belas kasihan pemerintah kolonial Belanda lewat ’politik etis’ dalam tiga perkara : Pendidikan, Irigasi dan Transmigrasi. Lewat pendidikanlah anak-anak bangsa ini membuktikan harga dirinya sebagai manusia. Lahirnya tokoh-tokoh nasional yang detik-detik kehidupan, tarikan nafas dan tetes keringatnya dibaktikan untuk pertiwi adalah buah surga dari pendidikan. Lewat pendidikanlah anak-anak bangsa memahami kolonialisme, imperialisme dan kewajiban perjuangan untuk revolusi.
Namun pendidikan tidak dapat bebas dari tangan kotor manusia. Salah satunya yang berupa pertentangan ide Gubernur Van Heutz dengan pendidikan keterampilan untuk rakyat kecil dan Abendanon dengan pendidikan untuk kaum elitnya adalah sandiwara politik internasional untuk konsumsi nasional rakyat Belanda. Pendidikan keterampilan untuk rakyat kecil tidak lain hanyalah usaha persiapan kuli-kuli (juru tulis-hitung-ketik dll) untuk tumbuhnya perusahaan-perusahaan Belanda, sedang pendidikan untuk kaum elit/priyayi adalah sarana akulturasi kebudayaan Eropa sekaligus kendali politik pada kelas sosial bangsawan dan pedagang-pedagang kaya agar tetap tumpul, jinak dan menelan habis archetype (pola pikir) pendidikan sebagai status dan nilai diri simbolik dalam gerak naik dari kelas sosial satu ke yang lain.
Namun kekuatan hakiki pendidikan adalah menyadarkan manusia akan eksistensinya. Suatu kekuatan mekanik yang berjalan dengan pasti walau sedemikian rupa pendidikan secara struktur dan material berusaha dikuasai oleh maksud manusia. Sejarah menjadi saksi, Pendidikan telah melahirkan pergerakan terorganisir dari berbagai kelas sosial pada sebuah bangsa dengan jumlah suku, bahasa dan budaya terbanyak di dunia. Pendidikan telah melahirkan revolusi, yang walaupun belum selesai, telah memberi kemerdekaan dan kedaulatan bagi negeri.
Setengah abad lebih sejarah pendidikan telah berumur di negeri ini. Sebuah archetype (pola pikir) yang dulu menjadi siasat pemerintah kolonial Belanda ternyata adalah archetype yang juga disiapkan secara global untuk negara-negara dunia ketiga. Sebuah archetype yang juga sudah menghunjam kedalam bawah sadar dua, tiga sampai empat generasi setelah revolusi kemerdekaan, bahwa pendidikan adalah atribut simbolis status dan nilai diri dalam segregasi kelas-kelas sosial kehidupan. Mayoritas bangsa ini dari tingkat terendah sampai tertinggi sudah tidak (atau tidak pernah) memahami lagi kekuatan hakiki dan kewajiban yang lahir dari rahim pendidikan. Mayoritas pengenyam pendidikan tidak lagi sadar telah menjadi pelayan bagi minoritas kekuatan sosial-politik-ekonomi internasional yang sedang menjalankan imperialisme modern.
Dalam ketidaksadaran ini, pendidikan dalam segala bentuk simbolis dan hakikatnya tetap akan memiliki kekuatan mulia. Dan sekali lagi kekuatan ini akan bekerja sesuai kodratnya, memerdekakan manusia dari penindasan dan memberi jalan bagi penemuan eksistensinya. Jiwa-jiwa yang berpikir akan melihat ke kedalaman hatinya, dibalik syariat, dibalik marifat dan pada hakikat. Kemudian Jiwa-jiwa yang berhati akan berpikir, melihat ke kedalaman ilmunya, dibalik simbol, dibalik kebenaran dan akhirnya pada tanggung jawab dan kewajiban.
Dan untuk semua pahlawan pendidikan Nusantara yang telah berpulang pada-Nya, selamat jalan dan terima kasih, bangga kami, perjuangan dan doa-doa kami menyertai kalian selalu.
(8-12-2007-RT.SLMB)




Leave a comment
Comments feed for this article