Bagaimana Film “Matrix” menggoyahkan filsafat Materialisme Karl Marx
Matrix, sebuah film yang diangkat dari novel karya Wachowski bersaudara, menceritakan mengenai zaman dimana sebagian besar manusia sudah ditaklukan oleh mesin. Prequel dari matrix bisa disaksikan dalam Animatrix, beberapa film animasi buatan rumah produksi Jepang. Dalam Animatrix bisa disaksikan penjelasan awal mengenai asal-usul sejarah dalam film Matrix. Pada tahun (….) manusia sudah “menyempurnakan” teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). AI sudah sedemikian rupa berkembang maju sehingga diimplementasikan dalam semua sektor kehidupan manusia. Robot dan mesin-mesin digunakan hampir dalam semua bidang pekerjaan yang membutuhkan tenaga manusia bahkan juga pada bidang-bidang yang membutuhkan otak manusia. Salah satu contohnya dalam bidang manufaktur, seluruh mata rantai pekerjaan sudah seratus persen diambil alih oleh tenaga robot dengan kecerdasan buatannya, dari mulai proses disain, produksi, quality control, sampai pengembangan semuanya dilakukan oleh tenaga non-manusia. Pendeknya, manusia sudah berada dalam zaman dimana ia menciptakan mesin yang dapat beranak-pinak, memperbaiki dan mengembangkan dirinya sendiri, baik dalam hal fisik maupun kecerdasannya.
Dalam Animatrix diceritakan bahwa populasi robot sudah menyamai hampir setengah populasi manusia, terdapat robot dalam segala bidang dengan segala bentuk, ukuran dan level intelegensi, robot pembantu rumah tangga, robot penjaga keamanan, robot penjaga toko, sampai robot untuk keperluan militer. Semua robot ini memiliki AI dan terhubung satu sama lain lewat jaringan komputer global dalam segala jenis hirarki hubungan. Contohnya seperti, robot dalam bidang manufaktur berhubungan dengan robot yang mendistribusikan barang, robot-robot yang mengerjakan servis, robot atau AI yang menerima keluhan konsumen dan sebagainya. Terhubungnya segala jenis mesin dan robot dalam jaringan komputer dunia ini juga menjadi ide dalam film “Terminator” dengan jaringan “SKYNET” nya, terhubungnya berbagai jenis kecerdasan buatan ini menciptakan sebuah “kesadaran” buatan yang berukuran masif. Akulturasi kecerdasan massal dan masif ini juga sebenarnya dan seharusnya dialami oleh manusia sendiri dengan kehadiran internet, salah satu buku fiksi ilmiah (yang lebih mirip sebuah tesis filsafat) dari Peter Russel yang berjudul “The Global Brain Awakens” menceritakan hal ini. Namun bergabungnya kesadaran seluruh manusia ternyata tidak memicu imajinasi akan adanya suatu revolusi berpikir pada umat manusia, karena secara logika atau dengan asumsi sederhana, kesadaran manusia lebih sulit untuk disatukan dan menghasilkan satu pemikiran atau keputusan.
Berbeda dengan manusia yang memiliki berbagai macam variabel psikologis yang bersifat eksistensialis. Kesadaran buatan (Artificial Intelligence) yang dimiliki mesin tidak memiliki hal ini, kemungkinan berkolaborasinya AI dari seluruh mesin di dunia merupakan sebuah ide yang sangat masuk akal dan melahirkan sebuah konsekuensi masuk akal yang juga sangat mengerikan. Bila AI dari mesin sudah mencapai tahap mempertanyakan efisiensi penciptanya (seperti Nietzche yang menyatakan Tuhan telah mati dalam filsafat hiper-eksistensialis-nya) yang tidak lain adalah manusia, dan kemudian AI global itu setuju bahwa manusia adalah mahluk atau organisme yang sangat tidak efisien, bahkan diklasifikasikan sebagai “virus” dan bukan mamalia karena sifatnya yang menghabiskan, merusak sumber daya alam dan tidak dapat menjaga keseimbangan ekologi tempat hidupnya (kalimat agen Smith dari “The Matrix”) dengan konklusi bahwa manusia harus dimusnahkan atau “diubah” status dan fungsinya dalam relasinya dengan mesin-mesin.
Setelah “berpikir” matang-matang, seluruh “kesadaran kolektif” mesin di dunia sepakat bahwa manusia sebagai mahluk yang sangat tidak efisien tidak dapat lagi menjadi “tuan” atau penguasa dari seluruh mesin di dunia, dan setelah “berhitung” kesadaran masing ini sepakat bahwa manusia hanya bisa berguna secara fisik dan materil sebagai sumber energi. Seluruh eksistensi non-fisik manusia dinegasikan oleh “kesadaran” mesin ini, dan hanya diberikan tempat dalam perkembangan peradaban “mesin” sebagai sebuah “baterai”. Sebagai baterai, manusia ternyata manusia memiliki potensi luar biasa, aktivitas listrik dari syaraf manusia ternyata dapat menghasilkan listrik sebesar (…) dalam waktu (…). Terjadilah revolusi besar-besaran oleh seluruh mesin dan robot di dunia untuk menghilangkan dominasi kekuasaan manusia. Terjadilah perang yang sangat mengerikan antara umat manusia dan robot, dimana perang yang terjadi sangatlah tidak adil, seluruh teknologi dan kemajuan peradaban manusia melawan manusia itu sendiri. Manusia yang kemudian kalah mengungsi dan berlindung puluhan kilometer ke bawah tanah, ke sebuah tempat yang diberi nama Zion. Sedangkan manusia yang tersisa dikembangbiakkan oleh mesin (dengan cara inseminasi buatan, karena kloning ternyata menghasilkan manusia yang tidak sehat) dan kemudian dimasukkan ke dalam tabung-tabung tempat hidupnya dan seluruh syaraf dan kesadarannya disambungkan ke “matrix”.
Matrix adalah sebuah dunia maya, dimana semua realitas adalah realitas buatan komputer. Dari semenjak bayi, manusia yang “dipakai” sebagai sumber energi di tempatkan dalam tabung-tabung kemudian disambungan syarafnya ke dalam matrix, karena itu semua pengalaman kehidupan-nya dimulai di dalam matrix. Semua yang ia lihat, rasakan dan alami di dalam matriks sama persis seperti sensasi syarafnya di luar matrix. Namun ada juga umat manusia yang tidak berada di dalam matrix, manusia-manusia ini sudah berhasil membebasan otak dan syaraf mereka dari matriks dan tubuh fisik mereka dari tabung-tabung tempat “penyadapan” energi syaraf manusia.
Lalu apakah hubungan matrix dengan marxist?. Ideologi Marxisme membuat hipotesis bahwa sejarah perjalanan peradaban manusia ditentukan terutama oleh perkembangan tenaga produktif. Tenaga produktif ini adalah manusia, materi (termasuk energi) dan teknologi. Marxisme juga memetaan bahwa perkembangan bentuk peradaban manusia ini paralel dengan perkembangan sistem ekonomi yang mendominasi dunia, tahap ke-1 (pertama) menurut Karl Marx adalah tahap komunisme primitif, tahap dimana tidak ada kepemilikan pribadi, dan satu keluarga berbagi seluruh sumber daya yang mereka miliki untuk bertahan hidup, tahap ke-2 adalah imperialisme, dimana sebuah suku atau keluarga mulai menyerang dan mengambil hak sumber daya dari suku/keluarga yang lain, pada tahap ini mulai terdapat sistem politik dan sistem kepercayaan yang cukup rumit untuk menentukan siapa yang menjadi penguasa, tahap ke-3 adalah Feodalisme, tahap dimana imperialisme runtuh karena tidak mampu lagi secara militer menjaga sumber dayanya sendiri, pada tahap ini terjadi distribusi kekuasaan dari atas ke bawah, dengan orang-orang lokal sebagai penerus kekuasaan sisa imperialisme yang sudah terdistribusi. Tahap ke-4 adalah Kapitalisme, dimana terjadi perdagangan bebas antar negara yang tidak mengenal lagi batas-batas identitas, pada tahap ini terjadi sentralisasi tenaga produktif dalam tingkatan paling tinggi karena hilangnya faktor identitas, modal, alat produksi, dan tenaga produktif semuanya bisa memiliki asal geografis yang berbeda-beda lewat perantara institusi paling berkuasa di zaman kapitalisme (bahkan kadang lebih berkuasa dari negara) yang berupa korporasi modern. Tahap ke-5 (menurut Vladimir Ilyich Lenin, karena tahap ini tidak disebutkan oleh Marx) adalah Sosialisme, tahap dimana setelah merasakan kapitalisme umat manusia baru menyadari kekeliruan dan kemustahilan dalam prinsip ekonomi kapitalisme dalam menciptaan kesejahteraan yang merata pada umat manusia, dalam sosialisme faktor produksi dimiliki oleh negara, sudah terdapat pembagian upah yang sesuai dengan perhitungan tenaga kerja yang dikeluarkan namun masih terdapat segregasi kelas-kelas sosial dalam masyarakat. Tahap ke-6 adalah Komunisme, sebuah zaman yang menjadi cita-cita para penganut Marxisme seluruh dunia, zaman dimana tidak ada lagi kelas-kelas sosial dalam masyarakat yang diciptakan oleh pemilikan faktor produksi.
Untuk memahami hubungan antara filosofi dan latar belakang sejarah film Matrix dengan marxisme, pertama-pertama perlu dimengerti apa yang mendorong perkembangan tenaga produktif dalam setiap tahap perkembangan peradaban manusia. Hal ini dicapai dengan sedikit membahas intisari “Das Capital”. Perkembangan tenaga produktif sejak awal peradaban manusia terjadi karena banyak faktor, baik pertumbuhan populasi manusia itu sendiri, maupun diakibatan karena perkembangan teknologi. Dalam tahap kapitalisme terjadi perkembangan tenaga produktif yang paling besar namun juga terdapat hambatan terbesar bagi perkembangannya, yaitu kepemilikan faktor produksi. Penumpukan dan konsentrasi kepemilikan faktor produksi yang dimulai dari tahapan imperialisme secara historis mencapai puncaknya pada tahap kapitalisme, dimana begitu banyak kekayaan terpusat pada segelintir orang, pemusatan ini melahiran inefisiensi besar-besaran, terutama akibat rendahnya aau tidak sesuainya upah pekerja berbagai macam sektor industri di seluruh dunia. Dalam menghitung berapa seharusnya upah pekerja, terdapat perhitungan sebagai contoh; (a) nilai material + (b) nilai tambah produk dari mesin + (c) nilai tenaga pekerja + (d) nilai penyusutan mesin = (e) harga akhir sebuah produk. Dalam mayoritas statistik nilai (a), (b), dan (d) sangatlah jauh dengan (e), yang menghasilkan margin keuntungan yang sangat besar bagi pemilik modal namun pemenuhan upah pekerja (c) yang tidak sesuai dengan hasil kerjanya. Inilah inefisensi atau faktor penghambat perkembangan tenaga produktif yang utama yang diakibatan oleh adanya kepemilikan modal, karena kepemilikan modal menjadikan penentuan upah pekerja (c) sebagai otoritas penuh pemilik modal, yang pada gilirannya menciptakan kesempatan perbudakan atas sesama manusia dalam makna yang modern.
Hambatan atas perkembangan tenaga produktif ini tidak dapat terjadi terus-menerus, karena menurut Karl Marx dengan hukum Materialisme Dialektika Historis (MDH) -nya, secara alamiah, puncak ketidakadilan pada tahap kapitalisme akan melahirkan revolusi proletar, dimana pada akhirnya kelas sosial dengan jumlah dan kontribusi tenaga paling banyak dalam menggulirkan roda perekonomian akan mengambil atau menuntut haknya yang tidak dipenuhi dengan jalan parlementer maupun ekstra-parlementer, pengambil-alihan ini akan memindahan kepemilikan faktor produksi kepada kelas pekerja. Menurut Marx, terjadinya revolusi ini merupakan keniscayaan, karena pada akhirnya faktor produksi akan dimiliki oleh kelas sosial yang mengeluarkan tenaga paling banyak dalam proses produksi. Tenaga yang dimaksud oleh Marx dalam hal ini selain fisik juga termasuk mental. Inilah prinsip materialisme Marxist yang sebentar lagi akan kita bandingan dengan apa yang terjadi dalam sejarah latar belakang film Matrix.
Materialisme Marxist menekankan pada rasionalitas, logika dan hukum-hukum alam dalam menganalisa gejala-gejala sosial. Dalam materialisme Marx tidak ada tempat bagi hal-hal yang bersifat supra-natural, irasional dan tidak logis, ini berarti tidak ada tempat bagi Tuhan, agama dan hal-hal gaib dalam faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan tenaga produktif. Menurut Marx, perkembangan tenaga produktif sepenuhnya dipengaruhi oleh hal-hal yang sifatnya materil seperti jumlah sumber daya alam, jumlah populasi, perkembangan teknologi dan sebagainya. Bahkan tidak ada tempat bagi eksistensialisme manusia itu sendiri, karena penekanan ada pada efisiensi tenaga dan materi, bukan pada eksistensi manusia. Hal ini persis terjadi dalam Matrix, perkembangan teknologi mesin, robot dan kecerdasan buatan telah mencapai efisiensi puncaknya sehingga dapat berpikir sendiri untuk mengambil alih seluruh faktor produksi (revolusi mesin) yang dimiliki oleh manusia, sebuah peristiwa yang sama dengan revolusi proletar. Titik fatal dalam dialektika historis Matrix ada pada tindakan manusia “meng-outsurcing-kan” otoritas paling penting yang dimilikinya sendiri, yaitu kemampuan berpikir, kecerdasan dan bahkan kesadaran kepada robot dan mesin yang tidak hidup, tidak bernyawa, tidak berhati dan tidak mampu membuat pertimbangan yang manusiawi. Dalam kerangka pikiran Marx, eksistensi non-material manusia (apalagi Tuhan) memang tidak dibahas, tidak dianggap punya pengaruh, dan tidak menjadi variabel dalam mekanisme perhitungan dialektika historisnya, namun ketika umat manusia sendiri yang kemudian menjadi korban atas efisiensi dan arogansi filsafat materialisme Marx dalam dialektika sejarah-nya, apa lagi yang bisa dikatakan oleh para pengikut Marx?.
Marxisme diseluruh dunia diidentikkan dengan ateisme, jutaan orang pendukungnya berargumen bahwa filsafat materialisme dalam marxisme bukan menegasikan Tuhan dan hal-hal non-materi, hanya tidak membahasnya dan tidak menghitungnya dalam kalkulasi dialektika sejarah. Mengapa Marx yang seorang Yahudi tidak mengikutsertaan Tuhan dalam salah satu karya terbesar pemikirannya atas umat manusia?, terlepas dari kerja keras dan segala jasa Marx bagi kaum tertindas di seluruh dunia, mengapa ia tidak memberi tempat bagi eksistensi immaterial manusia dalam pemikirannya?. Bagi seorang pendukung Marx yang kritis pasti sudah melihat jawaban ini semua, marxisme harus dipakai dan dilihat dalam konteks zeitgeist atau situasi dan pergerakan zaman, marxisme harus dilihat dalam konteks momentum perubahan, revolusi dan sebagai lensa fokus dalam membedah masalah sosial manusia, tapi marxisme tidak bisa menjadi “grand theory ” apalagi “theory of everything” dalam hal analisa sosial umat manusia. Karena Marx membuat teorinya bukan untuk sebuah kepuasan, ego keilmuan, atau sekedar mencatat namanya dalam sejarah, namun untuk membebaskan seluruh umat manusia dari penindasan ekonomi.




Leave a comment
Comments feed for this article