Sebuah buku menarik karangan Steven D. Levitt, yang berjudul; ’’Freakonomics’’, membahas tentang ‘Freak and Economics’, ‘Economics for the Freaks’ atau mungkin ‘How to use Economics for Freakish thing’, saya rasa yang terakhir lebih tepat walau semuanya punya derajat kebenarannya sendiri-sendiri. Dalam buku ini Levitt menuturkan narasi brilian yang lebih terdengar seperti seorang psikolog sosial daripada seorang ekonom. Levitt memasak sebuah narasi dari rempah rempah statistik berbagai hal remeh dari kehidupan sehari hari dan menghasilkan sebuah hidangan lezat fakta – fakta perilaku sosial yang cukup mengejutkan.
Sebagai contoh ia menjelaskan kemiripan antara perilaku organisasi rasis Ku Klux Klan dengan cara kerja seorang broker real estate, memaparkan benang merah antara statistik penggunaan alat kontrasepsi dengan turunnya angka kejahatan pada 2 generasi kebawah sebuah negara bagian di amerika serikat, mengungkap sejumlah kasus perilaku curang guru guru smp lewat analisa pola pada hasil jawaban multiple choice, menjelaskan hubungan antara cara mendidik anak yang benar (secara ekonomi) dengan perilakunya di masa depan dan banyak hal menarik lainnya.
Pendeknya, Levitt menunjukkan bahwa ekonomi dapat menjadi sebuah pisau bedah psikologi yang sangat tajam buat menganalisa masalah-masalah sosial bahkan individu, sebuah bacaan wajib buat para ilmuwan psikologi, buku ini juga membuka mata pembacanya bahwa ekonomi sebenarnya adalah sebuah cabang psikologi, karena subyek utama yang dipelajarinya adalah perilaku manusia. Hanya saja ekonomi jauh lebih beruntung dari psikologi, statistik mengenai uang ada dimana mana, mudah didapat, dan terlibat dalam di kehidupan manusia, pribadi maupun kolektif. Sedangkan ilmu psikologi harus bergumul dengan carut-marut variabel perilaku manusia yang jumlahnya seperti tak mengenal batas.
Apakah yang sebenarnya menjadi motivasi perilaku manusia sehari-harinya? Uang?, bukan sebuah jawaban yang tepat tetapi sering dimaklumi, pad awalnya uang hanya berperan sebagai kebutuhan perantara, walaupun sepanjang sejarah pergumulannya dengan keseharian manusia, uang sudah berevolusi jadi sesuatu yang membangkitkan kepuasan fisiologis ketika dipegang, dimiliki dalam jumlah banyak, bisa dipamerkan ke orang lain kepemilikannya dan sebagainya. Uang sudah berevolusi terlalu jauh sejak kelahirannya. Saat ini uang bukan lagi sebagai kebutuhan perantara saja, uang dapat menjadi tujuan pemuas dalam semua kerangka waktu bagi orang – orang dengan segala karakter, besok, sekarang, bulan depan atau lima tahun lagi, disimpan atau dibuat beranak pinak, dipakai segera untuk bersenang senang atau mungkin digunakan untuk tujuan yang lebih memuaskan secara spiritual.
Tapi apakah sebenarnya arti uang? Berbeda beda untuk setiap orang untuk jangka waktu yang berlainan. Tapi satu hal yang pasti, perilaku orang atau bahkan mungkin isi jiwanya dapat ditakar dari penggunaan uangnya… kalimat ini bebas untuk diperdebatkan, tapi cobalah membandingkan antara orang yang menghabiskan setengah penghasilannya untuk buku – buku, setengah lagi untuk makan dengan orang yang menghabiskan setengah untuk hiburan malam, alkohol dan ekstasi, seperempat untuk kepuasan seksual, seperdelapan untuk baju dan seperdelapan untuk makan. Sangatlah jelas ada sebuah benang merah ilmu pengetahuan dalam hubungan antara alokasi pengeluaran uang seseorang dengan perilakunya, motivasi jangka pendek, jangka panjang dalam perilakunya, nilai – nilai yang dianut dan yang menjadi prioritasnya, bahkan mungkin umur, berat badan dan tinggi orang tersebut. Ingatlah, uang punya tiga fungsi utama dalam ilmu ekonomi; 1) alat tukar, 2) alat hitung, 3) alat penyimpan nilai, bayangkanlah sejauh apa relasi ketiga fungsi uang ini dengan segala dinamika perilaku manusia.
Adakah arti lain dari uang? Mungkin dari sudut pandang yang lain. Jawabannya mungkin terdengar aneh, uang adalah bahasa, jika dalam sekejap anda setuju bahwa uang memiliki karakteristik yang dimiliki oleh bahasa adalah benar, maka anda akan dapat mengikuti penjelasan berikutnya dengan mudah. Ada empat jenis bahasa besar yang ditemukan oleh umat manusia, dari yang paling tua sampai yang paling muda : bahasa lisan, bahasa tulisan, uang dan terakhir bahasa biner. Keempatnya mengubah wajah dunia dan manusia, ketiga bahasa pertama secara evolusioner dan yang terakhir revolusioner. Masing-masing bahasa yang lahir merangkum dan memenggal kompleksitas dari jiwa manusia, mempermudahnya untuk saling berkomunikasi satu sama lain. Bahasa lisan memenggal sensasi-sensasi pikiran, konsep-konsep abstrak yang tidak dapat dijelaskan dengan kata – kata. Bahasa tulisan memenggal keindahan dan kompleksitas pita suara manusia, menghilangkan pemaknaan hubungan yang muncul dari interaksi antara gerak tubuh, ekspresi wajah, dan bahasa lisan manusia. Bahasa Uang memenggal kompleksitas perasaan, pikiran dan jiwa manusia, menyederhanakan komunikasi dengan berubah menjadi perantara pemuas hampir semua keinginan manusia yang tertunda, ditunda, yang mungkin dan tidak mungkin, bahkan yang dangkal dan luhur, Bahasa yang terakhir mencuri keunggulan semua bahasa sebelumnya, Lisan, Tulisan dan Uang, dengan mensimulasikan semua fungsi bahasa-bahasa sebelumnya kedalam denyut-denyut elektronis. Pendek kata, segala sesuatu yang punya fungsi mereduksi detail-detail tidak perlu dan kompleksitas dari jiwa dan pikiran manusia dengan tujuan untuk berkomunikasi adalah bahasa.
Kembali ke uang sebagai bahasa, banyak manusia yang berceloteh dengan bahasa uang tanpa tahu artinya, banyak yang mengobrol tanpa tahu tujuannya, banyak yang bernyanyi tanpa tahu apa gunanya, banyak yang menulis dan melukis dengannya tanpa tahu keindahannya. Itulah bahasa, bisa dikuasai manusia sekaligus menguasainya, sebagaimana salah-salah kata bisa membuat anda gagap dan malu, sebagaimana berteriak keras – keras membuat anda lebih percaya diri, sebagaimana diam membisu bisa membuat anda merasa gagal dalam hidup.
Begitu juga dengan uang sebagai bahasa, uang bisa menjadi bahasa cinta antara anda dan pasangan, menjadi alat tukar, alat hitung dan alat simpan dari tinggi-rendah, besar-kecilnya perasaan anda terhadap pasangan, sebuah bahasa yang kemudian dimengerti juga oleh pasangan anda. Uang dapat menjadi bahasa cinta antara orang tua dan anaknya, bahasa cinta antara partai politik dengan massanya, bahasa cinta antara dua orang sahabat dan bahkan bahasa cinta antara manusia dengan Tuhan-nya. Terlepas dari pemahaman kedua pihak (atau lebih) mengenai uang sebagai bahasa, uang akan tetap menjadi bahasa, bahasa tetap ada walaupun antara dua orang yang berkomunikasi hanya satu yang mengerti tentangnya. Bahasa dapat bersifat lepas dari manusia, karena ia bisa bertahan ditinggalkan manusia dan bisa tidak membutuhkan kehadiran manusia (bahasa tulisan, simbol, seni dll). Lalu coba anda bayangkan, bahasa yang juga mempunyai tiga fungsi; alat tukar, alat hitung, dan alat simpan. Bahasa ini bisa menukar sayur-mayur dan buah-buahan atau kesetiaan dengan pengkhianatan. Bahasa ini bisa menghitung nilai sebuah keping emas atau padanan nominal dari ribuan nyawa yang melayang. Dan yang terakhir bahasa ini bisa dipakai besok atau tahun depan (sebagai alat simpan) baik untuk menjamin kehidupan anak-cucu atau untuk mempercepat kiamat pada momentum yang tepat. Sebuah bahasa yang menakjubkan.
Uang bisa menjadi sumber kebahagiaan hidup anda, uang bisa membeli benua, membuat agama, atau membeli peran jadi dewa, uang bisa membeli kebenaran, menjual kebohongan dan memutar balikkan keduanya seperti barang dagangan, uang bisa membuat orang menjadi pintar atau bodoh, membuat orang merasa bodoh atau merasa pintar, dan bisa membuat orang gila diantara keduanya, uang bisa membeli sepiring nasi atau membuat orang kelaparan, uang bisa membunuh dan menghidupkan. Seperti Tuhan… karena itu menjadi Tuhan bagi beberapa orang yang ditinggal oleh Tuhan. Demikianlah, Sungguh bodoh manusia yang berkata, ”ini semua gara-gara uang…”, ia seperti menyalahkan angin yang lewat atau debu di mata, seperti perilaku animisme di jaman purba, seperti Qarun, seperti Bush dan seperti jutaan manusia yang belum memahami dialektika uang dan manusia.




Leave a comment
Comments feed for this article